Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Favourite Non Fiction Books

Di bawah ini beberapa buku non fictions favourite saya. Kebanyakan udah pernah saya posting di Instagram, tapi ada juga yang belum.

SAPIENS : A Brief History of Humankind (Yuval Noah Harari)

I have mixed feelings about this book. It was very interesting for most parts but it also has some boring bits. But if you persevere… you will be rewarded with knowledge that (in my case at least) will make you hungry for more. After reading this book, I immediately ordered all other Harari books. I think he has a brilliant mind. Some parts of this book also made me laugh out loud. Something you wouldn’t have expected from quite ‘heavy’ material!

Saking ngefans-nya sama Harari, saya juga langsung booking tiket-nya saat tahu dia mau manggung di Antwerp. I guess I am such a nerd. Jarang tertarik sama konser musik giliran ada profesor bikin talk show, langsung semangat. Hahaha! But then again, the concert hall was fully booked. Jarang-jarang loh ada profesor yang bikin 5000 orang lebih rela dateng cuma buat ndengerin ceramahnya.

FACTFULNESS (Hans Rosling)

I love this book, and not only me that love it but also Bill Gates and Obama do too! Bahkan katanya Bill Gates sampai ngasih free copies of this book to colleagues graduate karena menganggap isi buku ini penting banget buat dibaca sama anak-anak muda harapan bangsa.

Pada intinya buku ini menjelaskan betapa salahnya asumsi kita akan kondisi dunia saat ini dan bagaimana kita harus melawan fake news atau old theories yang udah gak relevan lagi dan mencari sumber data yang jelas sebelum membuat kesimpulan (yang keliru).

Walaupun banyak data yang diunggah, tapi buku ini gak boring sama sekali. Rosling menjabarkan semuanya dengan gamblang dan bahasa yang mudah dimengerti. Bahkan di beberapa bagian, saya tertawa terbahak-bahak saat membaca buku ini, sampai teman disebelah saya mengira saya lagi baca buku humor.

(okay, maybe it’s just me… baca sapiens ketawa, baca factfulness juga ketawa. maybe i do have a very strange sense of humor :))

Yang jelas baca buku ini bikin hepi karena ternyata dunia gak seburuk yang kita kira (atau yang digembar-gemborkan oleh media because hey, bad news sells)

If I can only recommend one non fiction book, then this book is the one.

BLINK : The Power of Thinking Without Thinking (Malcolm Gladwell)

Saya suka baca buku-bukunya Malcolm Gladwell. Selain Outliers yang ngetop banget itu, saya juga suka banget dengan Blink.

Di buku ini Gladwell menjelaskan soal intuisi, bagaimana seseorang bisa membuat keputusan in a blink of an eye and make the right (or wrong) decision. Menarik sekali mempelajari bagaimana otak kita bekerja. Bagaimana kita menyerap berbagai macam informasi baik disadari maupun tidak dan menjadikannya landasan untuk keputusan yang kita ambil (thin slicing).

Everybody Lies: What the Internet Can Tell US About Who We Really Are (Seth Stephens-Davidowitz and Stephen Pinker)

Buku ini membuat saya sadar kalau saya suka data dan senang membuat analisis dari berbagai data yang ada. Puas rasanya kalau bisa menemukan benang merah dari informasi-informasi yang tadinya berceceran dan seperti gak berhubungan satu sama lain. After reading this book I actually consider to learn more about big data.

Singkatnya, buku ini membahas bahwa people tend to lie in surveys (or not telling the whole truth) but people wont lie when they try to search information from the internet.

Dari data-data di internet, kita bisa membuat prediksi dan analisa, bahkan menjawab berbagai macam pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan.

All in all, I think it’s very interesting and quite an amusing book.

Lean In: Women, Work and the Will to Lead (Sheryl Sandberg)

I want to be Sheryl Sandberg when I grow up 🙂

She’s a lady boss, extremely successful (COO of Facebook!), super smart and most importantly she cares about empowering women.

Di buku ini Sandberg membahas tentang feminisme, leadership, gender bias and equality. Banyak hal yang relevan dan saya alami sebagai perempuan dan pekerja perempuan.

Satu hal yang saya ingat betul adalah cerita Sanders saat dia berbicara di sebuah event. Ketika sesi Q&A di mulai, seperti biasa, lebih banyak lelaki yang mengacungkan tangannya agar diberi kesempatan untuk bertanya dibanding perempuan. Ketika moderator berkata waktu hampir habis, semua perempuan yang sudah mengacungkan tangannya langsung menurunkannya lagi. Mereka urung bertanya. Sementara yang laki-laki? Sebagian besar tetap bertahan mengacungkan jarinya. So what if the time almost finish? There is still an opportunity to ask a question, and they will grab it.

That’s just how it is for us women, are we? Kita terbiasa untuk malu dan gak percaya diri. Mau bertanya di forum malu, takut pertanyaan kita dianggap bodoh dan gak berkualitas. Ketika kita tetap ngotot ingin bertanya, tapi waktu hampir habis kita cepat-cepat mengundurkan diri, gak enak kalau bikin acara molor…

For some reasons this story stay with me. I need to keep my hands up.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 3, 2020 by in bla bla bla.

Navigation

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: