Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Adopting Luna

our sweet, gentle hearted Luna

Alkisah ketika Neng masih piyik, dia selalu memohon-mohon untuk memelihara anjing di rumah. Bahkan kami pernah terlibat diskusi yang pelik tentang ini. Waktu itu, kalau gak salah Neng masih TK dan dia (lagi-lagi) ngotot minta anjing. Kami mencoba memberi penjelasan, kalau punya anjing itu butuh tanggung jawab yang besar. Apalagi kami jarang di rumah. Kasihan, nanti anjingnya sendirian kalau Neng sekolah dan mama papa lagi kerja. Jawaban Neng waktu itu: Ya kita pelihara 2 anjing. Supaya mereka bisa saling menemani dan gak kesepian.

Duarrr…
She’s a tough negotiator, that lil one.

Tahun berganti tahun. Permintaan untuk memelihara anjing semakin jarang terdengar, tapi bukan berarti hilang begitu saja. Apalagi sejak punya Malou (kucing nyebelin kesayangan kami). Kalau lagi bete sama Malou, Neng pasti minta anjing lagi (walaupun ngomongnya sambil peluk-peluk Malou). Tapi karena kami sudah kebal dengan rayuannya, tetap saja still no dog in our family)… sampai…

Suatu malam saat kami sedang liburan ke Australia Juli 2019 kemarin, neng curhat lagi pengen punya anjing. Bedanya kali ini mama luluh dan akhirnya mulai goyah imannya. Singkat cerita, pas balik ke Belgia, kami mulai browsing liat-liat anjing di website penampungan hewan. Niatnya sih mau liat-liat dulu, tapi segala niat yang tadinya masih muncul malu-malu bagai api kesiram bensin begitu melihat foto-foto anjing yang lucu-lucu. That’s the point of no return, I guess.

Ketika mama dan neng (dengan dukungan keluarga besar papa yang manas-manasin melulu) semangat 45 untuk mengadopsi anjing, papa justru ogah-ogahan. Kenapa? Karena walaupun KMB pecinta hewan sejati, tapi dia juga paling realistis dibanding mama dan neng. Apalagi dia tumbuh besar dengan hewan piaraan (mamanya selalu pelihara anjing dan kucing, yang terbanyak dalam satu masa: 2 anjing, 7 kucing) jadi dia tahu banget betapa besar tanggung jawab untuk memelihara hewan. Siapa yang bakal pergi ke sekolah anjing? Siapa yang bakal ngajak jalan-jalan setiap hari? Siapa yang bakal bersihin rumah/halaman? Siapa yang bisa jagain kalau kami pergi liburan? Belum lagi ongkosnya (menurut perkiraan, biaya memelihara anjing di Belgia sekitar 700-1300 euro per tahun atau kurang lebih seharga satu tiket Brussel-Jakarta-Brussel). Papa pusing 🙂

Tapi apa daya KMB kalau mama dan neng sudah bersatu padu dengan keinginan yang sama?
Apalagi jauh di dalam hatinya, saya yakin dia juga sebenernya kepengen.

Akhirnya kami mulai serius mencari kandidat anjing untuk diadopsi. Di sini, ada beberapa situs yang bekerja sama dengan penampungan anjing di eropa. Jadi cukup melihat 1-2 situs, lalu memfilter anjing yang kita mau (misal; jenis kelamin, umur, potty trained, jenis, dll) lalu kita bisa melihat foto, cerita, dan karakter anjing-anjing tersebut. Jujur aja, kita gak terlalu peduli dengan ras. Neng basically suka semua jenis anjing. Sedangkan syarat saya cuma sedikit: jantan, umur di bawah 2 tahun dan tidak berwarna hitam.

Arizona a.k.a Luna in the website for adoption

Luna on her way home for the first time

(Eh dapetnya malah si Luna. Betina kecentilan, berwarna hitam/coklat tua hahahha….)

Secara umum, mengadopsi anjing di Eropa itu gak gampang. Setelah baca-baca perssyaratan dari beberapa shelter, saya sempat kebat-kebit juga takut permohonan adopsi kami nantinya gak disetujuin. Ibu mertua saya juga cerita kalau dia pernah mau adopsi hewan tapi jadi mutung karena pertanyaannya banyak banget. Beliau harus mengisi berlembar-lembar formulir bahkan sampai ditanyain slip gaji segala!!! Akhirnya beliau gak jadi adopsi dan memutuskan untuk beli dari breeder.

Walau banyak dengar cerita-cerita ‘menyeramkan’, tapi kami kekeuh untuk mencoba #adoptdontshop dulu. Karena salah satu niat kami memelihara anjing juga dasarnya untuk menolong hewan-hewan yang gak punya rumah.

Singkat cerita, akhirnya kami jatuh cinta sama anjing bernama Anur dari shelter di Bulgaria yang bekerja sama dengan penampungan di Belanda. Saya mengkontak penampungan di Belanda dan setelah diwawancara panjang lebar akhirnya kami bikin janji untuk berkunjung ke penampungan yang di Belanda, walaupun Anur belum ada di sana (masih di Bulgaria). Tapi karena satu dan lain hal, janji tersebut terpaksa kita postpone, dan kayaknya Anur keburu diadopsi orang lain. Gak lama kemudian, kita jatuh cinta denga puppy bernama Rey dan setelah bikin janji lagi dengan shelter di Belanda, akhirnya kami pergi ke sana tanggal 31 Agustus 2019 kemarin.

Let me tell you one thing.

Adopting is not always an easy process. In fact, most of the times it can be a very emotional, heart wrenching thing.

Saat kami mengajukan diri untuk mengadopsi anjing, kami udah siap dan mempersiapkan Neng untuk ditolak. Tapi kenyataannya, tetap aja sakit hati ketika ternyata kami gak boleh mengadopsi Rey. Bahkan di depan mata kami, si shelter memberikan Rey ke keluarga lain untuk diadopsi. Neng nangis. I was furious.

Bayangin aja, setelah menempuh 2,5 jam perjalanan Belgia- Belanda dan ikut kelas ‘how to raise a dog’ yang wajib diikuti oleh kandidat pengadopsi,tentunya kami kecewa berat. Saya yang sudah kesel (apalagi liat anak nangis) udah pengen buru-buru pulang saja. Eh tapi, si pengelola shelter membujuk untuk tinggal dulu main dengan anjing-anjing lain. Lalu Al jatuh cinta dengan 2 anjing lain, dan akhirnya si pengelola shelter mengijinkan kami untuk mengadopsi Arizona (yang kemudian diganti namanya menjadi Luna.)

 

Looking back, I was happy we ended up with Luna. Memang sudah jodoh, sepertinya. Dan walaupun awalnya sebel, saya mesti ngakuin kalau keputusan pengelola shelter bener. Dia sudah bertahun-tahun mengelola shelter dan sepertinya bisa ‘membaca’ dan mencocokan karakter si anjing dan pengadopsi.

Surprisingly Luna boleh langsung kita bawa pulang, padahal teorinya, wakil dari shelter harus mengunjungi rumah kita dulu untuk mengecek apakah kondusif untuk memelihara anjing. Karena dadakan boleh bawa pulang puppy, kami sama sekali gak siap, tapi untungnya di mobil ada selimut yang bisa jadi alas bobo Luna.

Sepanjang perjalanan saya langsung sibuk mengirim pesan ke anggota keluarga. Bener-bener seperti habis punya bayi! Gak lupa pinjem perlengkapan anjing dari sana-sini karena kami belum siap apa-apa! (KMB melarang saya belanja di petshop sebelum proses adopsi disetujui). Untungnya shelter memberikan makanan gratis dan kami juga wajib beli dog harness dan talinya, sehingga at least kebutuhan basicnya Luna udah terpenuhi.

img-20190901-wa00022901202727400762662.jpg

First pic with big sis, before going home to Belgium

Yang saya kagum dari shelter tersebut, mereka dikelola oleh satu keluarga pecinta hewan yang benar-benar passionate menjalankan misi mereka; to find a forever home/loving family for the dogs. Setelah prosses adopsi, mereka gak lepas tangan begitu saja tapi tetap memfollow up dengan membentuk whasapp dan facebook group gratis buat para pengadopsi untuk sharing informasi atau sekedar foto-foto dan cerita-cerita anjing mereka. Mereka juga siap sedia menjawab semua pertanyaan yang kita ajukan baik di forum, atau via telepon, terutama dari pawrents baru yang masih kebingungan ngurusin their new babies. Just like any other parents out there, I was overwhelmed with the amount of information and opinions from others about how to pawrent your furkid.

Saat mengadopsi Luna, kita diwanti-wanti untuk take it easy apalagi di minggu-minggu pertama. Bayangin aja, di usianya yang baru 4 bulan (Luna lahir akhir April 2019 dan tumbuh di jalan, ditemukan dan dirawat di penampungan hewan di Bulgaria, lalu tanggal 29 agustus menempuh perjalanan panjang Bulgaria-Belanda, tanggal 30 Agustus sampai Belanda dan nginep semalem, lalu tanggal 31 Agustus she arrived in her new home in Belgium. She has been thru a lot.

Makanya kita siap sedia dengan kemungkinan kalau Luna takut sama orang. Bahkan mungkin punya trauma tertentu. Jadi di hari-hari pertama kami mencoba membatasi kunjungan orang-orang yang mau ketemu Luna.

Eh… gak taunya si Luna mah kecentilan sendiri. Bukannya takut dia malah kesenengan kalau ketemu orang. Walaupun masih ada unsur malu dan hati-hati, tapi tetep aja pada dasarnya she is a very happy, super sweet dan super genit puppy.

We called her wigglebutt karena senengnya gowel-gowel pantat.

All in all, adopting Luna is one of the best decisions in our life.
Walaupun rumah jadi makin berantakan, plus tanggung jawab besar yang suka bikin pusing, tapi Luna bikin hidup lebih ceria. We all love her very much.

… well except Malou.

Malou doesn’t love Luna. But he tolerates her.
He even likes to play with her. Although he will never admit it. Oh No!

Malou is hiding from Luna

6 comments on “Adopting Luna

  1. hetih
    February 3, 2020

    wkwkwkwk… kek mau adopsi anak ya. Seneng deh bacanya 🙂

    Liked by 1 person

    • fanhar
      February 3, 2020

      prosesnya bikin bapee hahaha

      Like

    • TheKambings
      February 4, 2020

      Hahahahahha, gue juga dulu mewek di spca gara2 gak bisa adopsi 🤣🤣. Emang heart wrenching banget ya prosesnya. Tapi months later, pas lo liat lagi tatapan matanya di foto pas pertama adopsi, sama foto yang sekarang, you know that you’ve made a right decision.

      Like

      • fanhar
        February 5, 2020

        Gue inget cerita lo!!! Jadi bikin tambah deg2an hahaha. I dont know about making the fight decision. Sampai sekarang kita suka liat2 an trus ngomong… ini kita ngadopsi anjinh dapetnya kok kayak gink bangeg sih. Bisa minta refund gak ya hahahahahaha

        Like

  2. nyonyasepatu
    February 5, 2020

    Berapa lama Malou adaptasi sama Luna, Fan?

    Like

    • fanhar
      February 5, 2020

      Forever! Hahah. Define “adaptasi”. Karena mereka masih suka berantem2an. Hahaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 3, 2020 by in bla bla bla, In Belgium.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: