Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Do and Dont Ketika Dicurhatin

Let me tell you a little secret about me ;

I am a very very very private person.

Bingung kan? Kok bisa orang yang suka (over) sharing kehidupannya di socmed ngaku-ngaku kalau dia orang yang tertutup?

Well, saya sendiri juga tadinya gak percaya. Tapi ini sahih karena ini adalah hasil analisis psikologis (tes dari kantor) yang bilang kalau “Fanny is a very private person”. Pas baca, saya ketawa-ketawa sambil bilang “Ini ngaco!”. Tapi cengiran saya mendadak lenyap ketika suami komentar dengan nada datar… “Nope. That is very true.”
Lalu, mendadak saya teringat betapa seringnya saya memulai suatu cerita ke suami dengan “Dont tell anyone…”

๐Ÿ™‚

So yes, sejak itu saya mulai sadar dan mengakui kalau saya memang sangat sangat tertutup.

Beberapa tahun kemudian, seseorang bertanya kenapa saya sangat tertutup. Saya bilang, saya memang tidak mudah percaya dengan orang lain.

“But is it really about trust?” tanyanya. “Atau kamu ingin menjaga citra kamu? Sebagai Miss Perfect?”

I thought long and hard about it. Really? Benarkah ini karena pencitraan semata?
Jujur aja dalam hati saya nggak percaya karena saya bukan tipe yang suka banget mikirin omongan orang. But then i decided to do a little experiment.
Saya moncoba untuk curhat ke beberapa orang yang cukup dekat dengan saya.

Akhirnya saya menyadari kalau keengganan saya buat sharing, bukan karena takut dihakimi. Tapi lebih karena saya suka sebel dengan reaksi orang yang dicurhatin. Walaupun di dalam hati kecil saya, saya tahu kalau niat mereka baik, tapi tetap saja… kadang suka gemas sendiri. Dan pada akhirnya saya memilih untuk sekalian nggak pernah cerita. Daripada makin sebel kan?
Padahal sebenernya curhat itu bagus loh. Terapi murah meriah yang bisa meringankan beban.

Dari eksperimen asal-asalan itu, akhirnya mata saya jadi kebuka dan saya pun mencoba belajar bagaimana menjadi teman yang baik saat dicurhati.

Sengaja saya tulis di sini, sebagai pengingat untuk diri sendiri… dan siapa tahu juga bisa berguna bagi teman-teman pembaca blog ini.

Here we go.

Yang pertama, mari kita bahas “THE DONT’S”

1. Reactive
Saat teman curhat, kemungkinan besar dia sendiri sedang emosional. Artinya dia sendiri lagi sensi, dan kemungkinan dia menyerap emosi negative orang lain cukup besar. Kebayang gak sih, kalau lagi galau gitu trus kamunya malah lebih heboh? Pake teriak “Whaaaat?” atau marah-marah atau ikutan nangis.
Yang ada temenmu yang lagi sedih malah jadi tambah gundah gulana. Ingetloh.. kamu yang lagi dicurhatin. Dia lagi butuh kamu. Jangan sampai kebalik peran malah jadi dia yang harus nenangin kamu ๐Ÿ™‚

2. Mengecilkan masalahnya
Setiap orang punya kapasitas dan situasi yang berbeda. Mungkin buat kamu, masalah si teman itu gak gede-gede banget, tapi buat dia, itu masalah hidup atau mati. Cobalah untuk lebih mengerti. Jangan anggap enteng masalahnya. Nggak perlu bilang: “ah, lo kurang bersyukur…” atau “ya paling gak lo gak kelaperan seperti anak-anak di Ethiopia…”

3. Memberi nasihat tanpa diminta
Nah ini yang paling nyebelin, hahaha. Kebanyakan orang curhat cuma karena dia ingin didengar. Lagian, kata siapa teman kamu itu belum memikirkan segala alternatif jalan keluarnya? Dia yang paling tahu permasalahannya, jauh sebelum dia cerita ke kamu. Kemungkinan besar dia sudah google sana sini atau diskusi dengan ahli-ahlinya. Why do you think you know more? Hold back your tongue. Kalaupun kamu gatel pengen kasih saran, tunggu sampai dia tenang. Tanya, apakah dia bersedia menerima saranmu. Sampaikan dengan berhati-hati.

Update (tambahan).Jangan juga kasih komentar-komentar aneh yang malah cenderung bikin tambah galau atau paranoid. Misal temenmu ngeluh akhir-akhir ini sering pusing, lalu kamu langsung bercerita tentang tetanggamu yang juga sering pusing lalu ternyata mengidap kanker otak. Sumpah deh, ini tuh gak guna banget!

4. Jangan kompetitif
Ehm, mungkin ini lebih nyebelin dibanding poin no.3. Gak perlu untuk saingan dan cerita kalau masalah kamu lebih berat dari masalah dia. Kalau dia lagi sedih karena pacarnya selingkuh, jangan menyainginya dengan kata-kata semacam “lo masih mending… dulu gue malah pernah diselingkuhin sama sahabat sendiri…”
Hadeuhhh… sengsara kok dibuat lomba ๐Ÿ™‚

DO:

1. Be calm
Walaupun kamu kaget, shock, ikut pengen nangis, tapi kamu mesti mencoba untuk kuat untuk temanmu. Dia sedang mengeluarkan unek-uneknya ke kamu, dia butuh kamu untuk tenang supaya energi positif kamu bisa menular juga ke dia.

2. Validasi
Ini yang sebenernya dibutuhkan oleh temanmu. Seseorang yang mendengarkan. Yang mau memahami. Yang tidak menghakimi.

3. Menawarkan bantuan
Walaupun mungkin kamu tidak bisa menolongnya menyelesaikan masalah (dan kemungkinan besar temanmu juga gak berharap), tapi kamu bisa menawarkan bantuan dengan cara lain. Misalnya dengan memberitahunya kalau kamu siap jadi a shoulder to cry on anytime, atau sesekali babysit anaknya supaya dia bisa ada waktu me time, dsb. Atau terkadang, cukup dengan bilang “kalau ada yang bisa gue bantu, kasih tau aja ya…” itu sebenernya udah cukup banget.

Intinya, you need to be compassionate. To show that you care. To listen and be there for your friend in need.

Good luck!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 2, 2019 by in bla bla bla, thinking.

Navigation

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: