Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Shut Up!

Satu resolusi yang sedang saya coba terapkan adalah to talk less and listen more. Inget ya kuncinya ada pada kata “coba”. Hahaha! Soalnya gak gampang buat keeping my mouth shut. Tapi setelah saya pikir, kalau saya kebanyakan ngomong instead of ndengerin, maka ilmu saya gak nambah karena saya cuma ngomongin apa yang saya udah tau. Kalau saya dengerin orang, maka saya dapat tambahan informasi atau paling tidak masukan dan sudut pandang lain. Lagian, I am not trying to impress anyone. So I prefer to let them try and impress and maybe even convince me. Hahahah!

Anyway, masalah komunikasi ini memang gak gampang. Salah sedikit, bisa jadi gagal paham dan ujung-ujungnya berantem, putus hubungan silaturahmi atau malah perang. Fatal!

Socrates pernah bilang, kalau sebelum bicara sebaiknya kita pakai 3 filter test: Is it true, Is it kind, Is it necessary?

Maksudnya sebelum kita buka mulut (atau nulis status di socmed), kita mesti yakin dulu isi omongan kita bener atau cuma gosip dan hoax belaka?

Nah, kalau filter pertama (true) udah lolos, maka kita mesti ngetes lagi, apakah isi omongan kita itu baik (kind) dan beneran perlu diutarakan (necessary)? Kalau intinya cuma mau ngomentarin seseorang kok keliatan tambah item dan beresiko bikin dia sedih, ya buat apa diomongin. Jangan pakai dalih “aku cuma ngomong apa adanya kok!” atau “aku cuma bercanda kok!” Hadeeehh… itu mah jatohnya bullying…. Lagian gak ada gunanya juga kan buat si penerima pesan? Dan belum tentu juga kan pendapat kamu itu benar? Siapa tahu, buat pasangannya dia justru tambah cakep dan eksotis karena gak pucat seperti standar kamu? Tiap orang kan beda…

Kalau saya boleh nambahin eyang Socrates, maka harus juga dipertimbangkan when and where sebelum kita angkat bicara. Waktunya tepat gak? Tempatnya tepat gak? Misalnya kita mau kasih tau seseorang yang kancing bajunya copot, ya gak perlu teriak-teriak di tempat umum atau dibahas di twitter segala.

Walaupun saya selalu mencoba untuk gak nyakitin orang dengan omongan saya, (ehm… kadang-kadang sih kalau ada yang nyebelin saya gak terlalu hati-hati juga haha), tapi sering kali sayalah yang jadi korban kenistaan mulut orang.

I am sure, most of them didn’t do it on purpose. Kadang karena terlalu ‘ramah’ dan ‘perhatian’ aja sama saya. Terlebih orang Asia, yang budaya basa basinya masih kental. Sering saya pikir orang asal ‘njeplak’ aja sebagai bagian dari basa-basi ini. Maksudnya mungkin baik, sekedar menyapa tapi yang keluar bukannya “apa kabar?” melainkan “loh kok sendirian, pacar mana kok gak dibawa?”

Duarrrr!!!!

Biasanya reaksi saya kalau ada seorang teman yang kasih komen nyebelin atau nasihat yang gak diminta (unwanted advise) adalahhh sebagai berikut (tergantung mood):

1. bitchy dan bales lebih nyelekit(apalagi kalau ada yang ngatain gendut. sensihhh akuhhh!!!)

2. sok manis tapi silet, contohnya kalau dibilang tambah gendut maka saya akan menjawab dengan senyum lebar “Haduhhhhh iya nih, habis piknik melulu…. jalan-jalan terus… liburan kemana-mana… makan enak melulu deh”. Tentunya dengan ekspresi -my-life-is-better-than-yours 😎

When people try to bring you down, soar!πŸ¦…πŸ¦…πŸ¦…

3. senyum dan ngalihin perhatian (look sapi terbang!!!). Biasanya ini kalau dapet nasihat yang gak diminta. tapi kadang2, kalau lagi iseng dan kompetitif saya bakal bahas panjang lebar dan ngeluarin semua teori yang saya tahu sampai si pemberi nasihat menyerah kalah. Atau, saya bakal sok gak ngerti dan terus membiarkan dia bicara panjang lebar sambil sesekali memberi pertanyaan pertanyaan jebakan batman, hihihi…

4. ngambeg atau nangis.

Okeh, itulah reaksi-reaksi reaktif saya.

Saya sadar, kalau seharusnya saya gak kepancing dan should not go down to their level. But hey I am a human tooπŸ˜…

But still, saya mesti inget kalau kontrol sepenuhnya ada di tangan saya. Sayalah satu-satunya yang bisa memberi akses bagi siapapun untuk mempengaruhi hari saya, mood saya atau pikiran saya. Kalau ada orang yang nyebelin, I am the one who should be able to tell myself not to let them get me. Their opinions, hurtful words, unwanted advises, stupid remarks should not matter.

Also, saya mesti ingat salah satu prinsip 3P yang pernah saya tulis di sini. Don’t over personalized things! Kadang mungkin kitanya aja yang kelewat sensi. Kadang ada orang yang maksudnya muji tapi kerasanya seperti celaan. Atau ada juga sih orang yang memang niatnya nyela, but then so what? These people think they can fix themselves by breaking others. Tunjukkan kalau mereka salah. They cant break you. You have the control.

Semakin saya tua dewasa, saya lumayan mulai bisa menerapkan prinsip ini. Mungkin karena sekarang saya lebih percaya diri dibanding dulu, waktu masih jadi ABG labil. Most of the time, people opinion about me dont really matter because I believe i’m fabulous I know more about me than anyone else. Jadi gak ngaruh juga orang mau ngomong apa.

Contohnya begini. Misalnya ada orang yang tanpa diminta pendapatnya, tau-tau komen kalau baju yang saya pakai kurang pantas untuk saya. Kalau dulu, saya pasti langsung kebakaran jenggot dan bisa-bisa jadi gak pede. Tapi kalau sekarang, reaksinya beda. Biasanya yang pertama muncul di pikiran saya adalah: Siapa? Siapa kamu ngatur-ngatur baju yang saya pakai. Dan spontan saya pasti bakal ngelirik penampilan dia. Emang bener dia keren? Bajunya matching? Biasanya sih, nggak. Maka saya bakal cuek bebek aja. Kalau saya butuh pendapat atau nasihat, saya bakal minta kok. Tapi tentunya gak ke sembarangan orang. Misalnya soal fashion, saya akan tanya teman yang penampilannya memang keceh menurut saya, atau sekalian liat majalah fashion buat inspirasi. Tapi ngapain saya ndengerin orang yang penampilannya lebih butut (dan mulutnya minta disambelin)…

Anywayyy… πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘

Saya justru lebih gemes dan penasaran dengan kenyataan, why do people think it’s okay to say stupid things, that might not be true, and most probably only cause damage? WHY?

Enaknya kalau ada orang kayak gini diapain ya? Diemin aja atau dicabein mulutnya atau dibilangin kalau it is not okay to say whatever it is you have in your mind? You need FILTER!

What do you think?

(saya coba nerapin resolusi saya nih, to listen more instead of ngomong melulu hahhaa. get it… get it? πŸ˜‰)

Advertisements

8 comments on “Shut Up!

  1. aRian
    April 22, 2018

    I think…ide sapi terbang itu bagus juga, mbak…πŸ™„

    Like

    • fanhar
      April 22, 2018

      pasti orang nengok ke arah yg ditunjuk. pasti!!! 🐴

      Like

  2. Ahaidar Almajasari
    April 22, 2018

    sebagai orang asia yang basa basinya masih kental, saya ketika bertemu dengan teman lama menyapanya “loh kok masih hidup?”

    Like

  3. ndu.t.yke
    April 23, 2018

    Sekepo2nya aku, klo mengetahui suatu fakta tidak membawa manfaat apapun bagiku, ya mending aku ga usah cari tau atau tanya2 lgsg ke ybs. πŸ™‚

    Like

    • fanhar
      April 23, 2018

      bahkan kalau ada manfaat buat kita tapi nyebelin buat orang ybs ya mikir2 dulu tetep ya buat nanya hahahah

      Like

  4. veronica5277
    April 24, 2018

    samaaa, aku juga masih belajar lebih banyak mendengar dan lebih sedikit bicara. Diam bukan berarti kita tidak paham, hanya memang kadang2 gak perlulah kita ikutan harus ngomong

    Liked by 1 person

    • fanhar
      April 27, 2018

      nahhhh… sebenernya kadang kalau diam karena ngerasa ini apa sih yang diomongin salah banget tapi males ah ngebahas… gak level… hahahaha.. 😁😁😁

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 22, 2018 by in bla bla bla, thinking.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: