Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

What If?

Beberapa minggu yang lalu, saat lagi biztrip saya mendapat telepon yang membawa kabar buruk. Berita mengejutkan, yang bikin mulut sampai mangap saking kagetnya. Apalagi dengan adanya kemungkinan domino effect. Langsung deh, pikiran saya dipenuhi berbagai macam spekulasi.

What if…

Things immediately became hectic and stressy. Saya dan banyak orang di sekitar saya,gundah. Gak bisa dipungkiri, energi negatif menyebar dengan cepat. Ketidaktahuan menimbulkan berbagai macam pertanyaan dan ketakutan. Tiba-tiba saja, zona nyaman kami terguncang. Seperti ditampar, saya jadi semakin sadar betapa fragilenya hidup ini. Apapun yang kita miliki, cuma pinjaman. It can disappear in a second. Puff… and it’s gone!

Saat itu, walaupun galau, saya memutuskan untuk fokus saja sama pekerjaan, meski gak gampang. Saya pikir, saya juga gak bisa ngapa-ngapain untuk mengubah situasi yang gak menyenangkan ini. It is beyond my control.

Jadi saya memutuskan untuk menyingkirkan pikiran negatif dan konsentrasi sama apa yang bisa saya perbuat; kerja dan menikmati kesempatan berada di luar negeri. Ketemu orang baru. Makan dan minum khas daerah sana. Jalan-jalan dan mengeksplor tempat-tempat yang belum pernah saya datangi. Having fun, whenever it’s possible, while I still can enjoy life!

Worrying only creates wrinkle, pikir saya waktu itu.

Apalagi, saat itu saya mesti pasang ekspresi “poker face”. Jauh-jauh dikirim kantor untuk menyelesaikan satu masalah perusahaan, saya harus tetap bersikap profesional walaupun hati teraduk-aduk :). Untungnya, justru dengan berkonsentrasi begini, malah bisa mengalihkan perhatian saya. Fake it till you make it, katanya. Dan bener aja, somehow I could still enjoy my trip regardless of what happened.

Belajar dari pengalaman, the worst case scenario usually only happens in your mind. Dan saat emosi mereda dan saya sanggup berpikir jernih,  semua skenario terjelek yang saya imajinasikan hanya sekedar… skenario. Bukan fakta.  Kalaupun suatu hari nanti yang terburuk terjadi, saya yakin Tuhan pasti selalu kasih jalan dan Insya Allah, saya sanggup menjalani apa yang memang harus dijalani.

Easier said than done.

Bohong kalau saya bilang kekhawatiran langsung otomatis hilang begitu saja. 

Begitu balik ke Belgia, saya masih butuh berkali-kali meyakinkan diri sendiri dengan cara ngobrol dengan suami dan teman-teman dekat sambil ketawa-ketawa pedih bersama 🙂

Selain itu, saya juga mulai mencari-cari ide dan bikin “contingency plan”. Tapi setelah dipikir-pikir, hampir semua rencana itu saya batalkan. Gak ada gunanya untuk panik. Gak ada gunanya pakai jas hujan kalau cuaca cerah dan matahari masih bersinar terik.
Saya jadi diingatkan lagi dengan petuah yang saya bikin sendiri, beberapa tahun yang lalu.

When rainy days come, I am prepared. I have my umbrella. But if one day my umbrella is broken, and it is still heavily rain…

… I will just dance under the rain.

credit image: pixabay

Advertisements

4 comments on “What If?

  1. nyonyasepatu
    December 9, 2017

    Sebenarnya iya sih, kebanyakan mikir ehhh akhirnya malah menarik energi negatif

    Liked by 1 person

    • fanhar
      December 9, 2017

      bener banget Non. have fun go mad ajahhh

      Like

  2. amijasmine
    December 9, 2017

    Semoga hal hal yang buruk tidak terjadi.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 9, 2017 by in thinking.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: