Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Pushing the limits

Semua orang pasti pernah merasakan pahitnya ditolak. Mulai dari ditolak jadi pacar, nggak dapet kerjaan yang diimpikan, gak diundang ke pesta teman, dan lain-lain.

Sebagai seorang perempuan yang hidup di luar negeri dan memposisikan saya sebagai kaum minoritas, plus penampilan yang sering dianggap lebih muda dari umur (oleh bule-bule di sini), membuat saya kenyang merasakan penolakan atau minimal di pandang sebelah mata.

Yes, it stinks. Penolakan bisa bikin ego kita terserang. Bawaannya pengen ngambek, trus menyerah.

Dulu saya pernah cerita di blog ini, saat saya baru ngelamar kerja di Belgia. Si mas pewawancara hanya melirik CV sekilas lalu bilang kalau pendidikan dan pengalaman saya di Indo gak ngaruh dan saya gak bakal dapat kerjaan kantoran. Paling hanya jadi buruh pabrik, pelayan resto,  atau asisten rumah tangga. Gak ada yang salah dengan profesi itu. Bahkan saya gak malu mengakui kalau saya pernah kerja jadi buruh beberapa minggu karena kerjaan apapun, selama halal, yang penting bisa bikin saya berkarya dan mandiri. Yang saya gak suka, adalah cara dia menyepelekan saya dan mimpi saya. 

Fast forward ke beberapa waktu setelahnya, saya mampu membuktikan kalau omongan si Mas salah. Tapi, apa kemudian hidup saya jadi lancar dan mulus gak pernah diremehin lagi atau ditolak? Ya nggak juga.

Saya masih sering mengalami perlakuan seperti itu. Kalau dulu saya menyikapinya dengan kesal berkepanjangan, sedih bahkan jadi minder, sekarang saya mencoba mengubah  mindset tersebut.

Seorang teman pernah bilang dia justru suka kalau diremehkan. Karena artinya, justru akan lebih mudah memberi kejutan orang itu dan membuktikan kalau dia salah. Bener juga, pikir saya. Pertama, orang itu akan lengah. Kedua, dia menerapkan target yang rendah sehingga justru lebih gampang untuk kita melampaui targetnya!

Mantan bos saya pernah bilang, ‘asking is for free‘. Meminta sesuatu itu gak bayar. Hal ini saya terapkan bulat-bulat setiap akhir tahun untuk minta kenaikan gaji, hahaha. Kayaknya dia jadi nyesel pernah ngajarin saya prinsip ini 😉. Satu hal yang dia lupa, meminta mungkin memang gak perlu dibayar pakai uang, tapi kadang dengan resiko sakit hati kalau permintaan kita ditolak mentah-mentah. Nah, ini saya banget nih. Harga diri bisa langsung merosot jatuh, sampai akhirnya saya takut meminta atau mencoba sesuatu yang beresiko untuk ditolak, diremehkan atau gagal. Gak deh, dari pada bete nantinya!

But you know what?

Kalau kamu gak pernah ditolak, artinya kamu gak pernah mencoba.

Kalau kamu gak pernah diremehkan, artinya you never push your limits.

Kalau kamu gak pernah gagal, bisa jadi artinya kamu stagnant. Gak pernah berusaha untuk belajar, atau menjadi lebih baik.

Memangnya kenapa kalau kamu gagal/ditolak/diremehkan?

Itu artinya kamu sudah mencoba. You are putting yourself out there. You are pushing your limits. You don’t stay in your own comfort zone! Be proud!

Satu lagi yang perlu diingat, penolakan bukan berarti ada yang salah dengan diri kita. Ingat 3P (personalization, permanence, pervasiveness)! 

Bisa jadi saat minta naik gaji trus ditolak, mungkin karena kondisi keuangan perusahaan yang kurang bagus saat itu, bukan karena performance yang jelek. 

Atau kalau ada orang mengaggap kita bodoh, kenapa kita harus main percaya saja sama pendapat satu orang. Anggap saja itu hoax… hihihi!

Jadi intinya sekarang saya gak mau merasa malu, gagal, atau sedih kalau ditolak atau diremehin orang. Saya justru akan merasa bangga, kalau paling tidak saya sudah mencoba, and pushing my limits!

PS: meminta di sini bukan berarti ngemis atau clamitan macem minta gratisan, minta oleh-oleh, minta traktir ya… hahaha 😉

Advertisements

2 comments on “Pushing the limits

  1. nyonyasepatu
    September 17, 2017

    Ditolak emang ngeselin tapi mana mungkin dalam hidup gak pernah ditolak ya 😄

    Like

  2. veronica5277
    October 2, 2017

    kan katanya gagal itu artinya kegagalan yang tertunda.. meski nyesek tapi bener juga si, bikin kita jadi berusaha cari cara lain biar berhasil

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 17, 2017 by in thinking.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: