Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

The Couple with The Name Tattoos 

Sudah lama saya dan Jo kepingin punya tattoo. Sejak sebelum pacaran, masing-masing memang suka sama tattoo dan ketika ngobrol kami punya impian yang sama: suatu hari nanti, kita bakal punya tato!

Sayangnya kami sama-sama gak tahu desain tato seperti apa yang kami mau, dan di bagian tubuh mana yang bakal di tato. Akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, mimpi punya tatopun lama-lama pudar. Walaupun setiap kali liat tato yang bagus, kita berdua sama-sama kagum dan kepingin lagi. Tapi ya itu, tato seperti apa dan di mana? Pertanyaan sama yang masih juga belum terjawab.

Sampai suatu hari, saya melihat di Instagram personil Pretty Little Liars yang memamerkan tato berinisial karakter masing-masing di samping jari mereka. 

THAT’S IT! 

Saat itu juga saya tahu yang saya mau. Tato berinisial A dengan desain font sederhana. Simple. Cantik. Bermakna. Dan pastinya saya gak bakal bosen sama anak sendiri. 

Posisi di samping jari juga oke buat saya. Gampang buat dipamerin (penting!!!😉), tapi juga bisa ditutupi dengan cincin besar dalam kondisi yang menuntut saya untuk tampil lebih konservatif.

Hati saya udah mantap, sekarang saatnya mencari tattoo artist-nya. Berhubung desainnya simple dan kecil, saya gak terlalu ribet soal ini. Yang penting si artis menjamin ke higenisan prosesnya. Itu saja. 

Kebetulan awal bulan Maret yang lalu ada Tattoo Convention di Antwerp. Semacam bazaar/fair yang mengundang banyak tattoo artists dari Belgia, Belanda, Jerman, Inggris, dll. Langsung deh saya ajak Jo dan Al ke sana. Di acara itu kita bisa langsung bikin tato juga kalau mau. Setelah muter-muter akhirnya saya nanya ke sebuah stan. Si tato artis yang dari Belanda menyarankan saya untuk tidak mentato di jari. Alasannya, kulit jari itu beda teksturnya dengan kulit bagian tubuh yang lain. Plus kecenderungan kalau kita bisa berkali-kali cuci tangan dan menggosok-gosok tangan jauh lebih sering dari bagian tubuh lain, bikin tato beresiko cepat hilang, pudar atau kehilangan bentuknya. Dia bilang, dia bisa aja bikin kalau saya memang mau, tapi sayang, katanya. Setiap tato yang dia bikin, dia kasih garansi satu tahun, kalau dalam satu tahun memudar, saya bisa balik lagi untuk rework, tapi ya tattoo shop dia jauh di Belanda, mau gak saya ke sana? 

Hihihi, jujur banget ya orangnya? Padahal kan bisa aja dia main kerjain, dapet uang trus bhayyy… kemungkinan juga gak bakal ketemu lagi…! Tapi dari kebanyakan tattoo artist yang saya jumpai, mereka memang gak komersil dan asal-asalan. Mereka menjunjung tinggi integritas dan kualitas hasil karya mereka. Si Mas tattoo artist pun menganjurkan saya untuk memindahkan tempat dari jari ke bagian tubuh yang lain.

Akhirnya sayapun pulang tanpa tato.

Saya jadi ragu lagi. Di mana tempat yang ideal buat si tato? Tapi keinginan untuk punya tato semakin menggebu. Pilihannya jatuh ke pergelangan tangan. Sebenarnya ini kandidat favorit sih, bahkan lebih bagus dibanding jari… tapi lebih susah nutupinnya. Plus di kantor, ada peraturan tertulis kalau pegawainya gak boleh kelihatan bertato (artinya boleh bertato selama ketutupan baju). Nah kalau dipergelangan tangan, nutupinnya ribet kan? Pake gelang atau baju tangan panjang juga belum tentu tertutupi. Masa harus pake pleister terus? 

Sebenarnya sih, saya yakin orang kantor saya bakal cuek-cuek aja. Gak bakal ‘menghukum’ saya, tapi tetap saya masih ragu. Belum lagi, kerjaan saya yang menutut sering ketemu orang lain seperti klien, agen, dll. Atau, gimana kalau saya kerja di tempat lain? Bisa jadi peraturan mereka lebih ketat?

But you know what? I decided to do it anyway.

Saya gak mau pikiran-pikiran seperti ‘gimana kalau…’ dan ‘apa nanti kata orang…’ menghambat apa yang saya sudah saya pengin dari dulu. If you really want something, you gotta go and get it. Sesederhana itu. YOLO!

Setelah diskusi dengan Jo dan Al, mereka menyarankan untuk bikin tato di pergelangan tangan kanan bagian dalam. Al juga yang kasih tau kalau ada tattoo shop di dekat stasiun di kota kami tinggal. Saya langsung google dan beberapa hari kemudian kami ke sana buat konsultasi. 

Tempat tatonya bagus dan bersih, bikin saya langsung sreg dan memutuskan untuk bikin janji. Sayangnya saya baru dapat appointment di bulan Mei, itupun setelah saya memohon untuk dipercepat karena tadinya saya cuma bisa dapat yang untuk bulan Agustus. Gila lama banget!

Setelah nyaris dua bulan menunggu akhirnya tanggal 9 Mei datang juga! YAY!

Prosesnya cepat, sekitar 15 menit dan gak sakit. Yang bikin tato perempuan muda yang ramah banget dan ngajak ngobrol sepanjang bikin tato, membuat saya makin santai.

Saya suka dengan hasilnya, and no regrets!

Sehari setelah itu, saya ada meeting tahunan besar selama 2 hari dengan CEO, bos, kolega dan beberapa agen dari manca negara di Antwerp. Hari pertama meeting saya masih gak pede dan menutupi tato saya dengan plester Dora!😆 Tapi seorang kolega yang ember langsung teriak-teriak minta liat tato baru saya. Ya sudah deh… semua orang jadi tahu, dan reaksinya ternyata aman-aman saja. Bahkan beberapa agen luar negeri termasuk sales director dan general manager;ternyata bertato juga! Hihihi…

Ok, aman!

Pas saya pasang foto tato di IG, ipar saya langsung whatsapp nanyain. Ternyata dia jealous… pengen punya tato juga!

KMB juga makin mantab untuk bikin tato. Setelah ribet mikir desain seperti apa, akhirnya dia menerima usulan saya untuk bikin barcode bertuliskan nama anak wedhok

Mereka berdua bikin janji di tempat yang sama dan mesti nunggu sekitar 4 bulan. Akhirnya tanggal 7 September kemarin KMB ditato dan setelah dites, barcodenya bisa dibaca beneran! Horeee! Dia masih harus datang sebulan lagi buat ngerapihin tatonya, karena biarpun desainnya simple tapi bikin garis-garis lurus di kulit itu susah, Jendral!

Minggu depan, gilirannya ipar saya buat bikin tato. Jadilah kami seperti keluarga bertato. Hihihi!

Advertisements

4 comments on “The Couple with The Name Tattoos 

  1. maylav96
    September 12, 2017

    Cakep… minimalis pulaaak..sukak liatnya..selain itu posisi nya jg pas di pergelangan tangan

    Like

    • fanhar
      September 12, 2017

      Ahhh.. makasih ya. Jadi tambah seneng dibilang bagus hahah

      Like

  2. TazOlip
    September 14, 2017

    baguusss, simpel tapi cakep, titiknya juga bikin makin manis kayak hasil dari typewriter hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 10, 2017 by in bla bla bla, motherhood.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: