Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

When the going gets tough

Butuh waktu lama saya berpikir untuk menulis dan mem-published post ini. Tapi setelah ditimbang-timbang, mungkin bisa membantu paling tidak satu orang di luar sana. Atau, mungkin suatu hari nanti saya bisa bercermin dan belajar melalui tulisan ini.

Hmmm,

Saya bahkan tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi ya udahlah, kita mulai aja.

Jadi begini, latar belakangnya dulu ya… Saya itu orangnya naturally happy. Iya, saya memang mood-moodan. Super galak dan judes. Emosional, pula. Kadang-kadang saya bisa nangis galau tanpa sebab. Tapi biasanya sih itu semua karena hormon yang melanda sebulan sekali. Aslinya, saya ora yang lumayan positive thinking. Dan satu hal yang saya syukuri, saya itu tipe orang yang selalu bersyukur. Tuh percaya kan? Saya bersyukur jadi orang yang selalu bersyukur. Kurang bukti apa lagi, coba?

Saking hobinya bersyukur dan merasa bahagia, saya suka teriak-teriak ke KMB. “I’m happy. I’m supppeeer happy!!!”, yang kemudian dijawab Mas Bul dengan singkat dan muka lempeng;”GOOD!” πŸ˜‚

Saya ingat, suatu pagi saat nyetir ke kantor, jalanan gak begitu macet. Matahari bersinar. Dan tiba-tiba saja saat itu saya dihinggapi perasaan bahagia yang membuncah menyadari keberuntungan saya. I am a lucky girl, indeed. Dan kejadian ini gak cuma sekali dua kali. Lumayan sering. Di mana saya terperangah dengan semua nikmat yang saya rasakan. Bahkan saat keadaan kurang oke pun, saya selalu bisa melihat sisi baiknya. Bener-bener orang Jawa sejati πŸ™‚

Sampai… ada suatu masa, di mana saya tidak merasa se-happy biasanya.

Saya tidak tahu tepatnya kapan masa itu dimulai. Sepertinya perlahan, sehingga saya tidak menyadarinya. Yang saya ingat ada satu momen di mana saya mulai ngeh kalau ada sesuatu yang berbeda dengan diri saya. Jadi, suatu hari saya terbangun dengan leher kaku sekali, susah digerakan. Sakit banget. 

Awalnya saya pikir ini cuma ‘salah bantal’ biasa, tapi kok rasanya ‘beda’ dan semakin lama, sakitnya menjalar ke mana-mana. Hari itu saya memutuskan untuk ijin sakit yang ternyata adalah sebuah keputusan yang tepat. Saya langsung menghubungi beberapa terapis yang bisa menangani saya saat itu juga. Untungnya ada satu terapis yang bersedia menemui saya di sore hari.

Saat KMB pulang kerja, dia mengantar saya ke si terapis karena saya gak berani nyetir sendiri. Gimana mau nyetir, saat itu gerak aja susah. Sampai di sana, setelah dianalisis, si terapis memijat punggung dan leher saya, dan langsung terasa enakan. Tapi saya masih harus datang lagi beberapa kali, supaya tuntas semua.

Di Belgia, beberapa pengobatan alternatif yang mendukung kesembuhan diakui oleh pemerintah dan disubsidi. Syaratnya, harus dengan resep dokter. Jadi saya langsung pergi ke dokter untuk meminta resep pengobatan lebih lanjut dengan si terapis, sekaligus surat dokter untuk kantor. Saya ingat, setelah memeriksa, Pak Dokter bertanya, apakah saya stress. Spontan saya menjawab, gak kok! Lah memang saya gak merasa stress. Waktu itu si dokter memandang saya dengan tatapan yang gimanaa gitu. Kayak nggak percaya. Padahal beneran. Saya gak merasa stress sama sekali!

Singkat cerita, hari berlalu dan saya beberapa kali pergi menjalani terapi. Tapi herannya, kok gak sembuh-sembuh juga. Memang gak sampai sesakit waktu itu (saya sudah bisa beraktivitas kembali), tapi juga gak bisa dibilang sembuh total. Setiap kali mulai terasa membaik, beberapa hari kemudian saya pegal-pegal lagi bahkan kadang sampai pusing.

Lama-lama saya mulai sadar, kalau setiap malam saya selalu ‘mimpi buruk’. Dan tubuh saya yang seharusnya beristirahat saat tidur, justru menegang. Otot-otot, terutama leher jadi kaku semua. Semua kerja terapis pun jadi buyar. Selain masalah fisik, mood saya pun memburuk.

Pelan-pelan, saya mulai menyadari kalau saya mungkin memang stress. Semua itu muncul di alam bawah sadar saya. Lucunya saya benar-benar nggak tahu apa yang bikin saya tertekan. Keluarga? Gak ada masalah. Teman? Baik-baik saja. Kerjaan? Sibuk, tapi ya… dari dulu juga begitu kok.

Sepertinya, saya sedang dilanda anxiety. I became a less happy person. Kalau dulu saya selalu otomatis bersyukur untuk hal apapun juga, saat itu saya harus memaksa diri saya untuk count my blessings. I became a bit grumpy. Sensitive. Sad. Kalau biasanya saat menghadapi suatu tantangan, saya akan bilang “Bring it on!”, saat itu saya justru memilih untuk ngumpet di bawah selimut. I didnt eat well. I didnt do sport. I couldnt focus. I feel tired. I kindda let myself go. The anxiety also made me feel even more anxious of my anxiety. Terus aja berputar seperti lingkaran setan.

Looking back, mungkin waktu itu saya sedang berada di ambang “burnt out”. Saat di mana saya merasa terlalu lelah menghadapi rutinitas sehingga berdampak pada kondisi mental dan fisik saya. 

Lalu bagaimana cara saya keluar dari rasa penat itu?
Well, jawabnya adalah patah tulang :))

Cara kerja Tuhan terkadang misterius. Dan saya selalu percaya, semua sudah direncanakan dan pada jalan dan waktuNya. Saya diberi kesempatan untuk beristirahat. Berefleksi. Disuruh mikir.

Sebelumnya, pas baru patah itu saya mikir, kenapa sekarang? Kalaupun harus patah, saatnya gak tepat banget. 2 minggu sebelum saya liburan ke Yunani dan gak sampai 2 bulan sebelum saya pulang kampung ke Indonesia. Tapi ternyata, the timing is just perfect.

6 minggu saya dipaksa cuti sakit. Masuk kantor 1,5 minggu, lalu cuti lagi untuk liburan 3.5 minggu. 2 bulan lebih saya dikasih jeda untuk menenangkan diri dan mengisi batere saya sehingga pelan-pelan, ‘Fanny yang asli’ muncul lagi. Watch out, the b!tch is back. Hahaha!

Saya diingatkan lagi, bahwa everything happens for a reason.

Saya diingatkan lagi, kalau saya harus bersyukur dilahirkan sebagai orang yang gampang bersyukur karena ternyata gak semua orang memiliki kapasitas begini.

Fumio Sasaki bilang, perasaan bersyukur itu adalah (bagian dari) kebahagiaan itu sendiri. Yes, bersyukur bisa membantu kita untuk merasa lebih bahagia. Tapi kalau kita sudah bahagia, biasanya otomatis kita akan bersyukur. Jadi, jangan secepat itu menuduh seseorang dengan sebutan ‘gak mau bersyukur’, karena siapa tahu, orang itu mungkin memang sedang bersedih atau tertekan. Bisa jadi dia sudah mencoba to count his/her blessing, tapi semua itu tertutup oleh kegalauannya. You dont know that because you dont walk in her/his shoes. 

Seorang psikolog berpendapat bahwa kebahagiaan seseorang dipengaruhi 50 persen oleh faktor genetis, 10 persen oleh kondisi hidupnya dan sisanya 40 persen ditentukan oleh perbuatan/ sikap yang bersangkutan.

Jadi, memang ada orang-orang yang sudah terlahir dengan kecenderungan untuk bahagia. Mau kepanasan atau kehujanan, dia hepi-hepi aja atau paling tidak, gak merasa semerana orang yang dilahirkan sebaliknya. Mungkin kalau dianalogikan, sama dengan orang yang punya bakat nyanyi. Tanpa susah payah berlatihpun, suaranya sudah enak didengar. Kalau si penyanyi ini lahir dikeluarga yang juga punya darah seni, dilingkungan yang mendukung bakatnya, maka kemampuannya akan semakin terasah. Apalagi kalau dia kemudian rajin berlatih, dan terus mengembangkan potensinya, ikut kursus musik… maka jadinya seperti berlian yang terus digosok. Berkilau!

Nah begitu juga dengan orang yang sudah terlahir dengan kecendurungan untuk bahagia. Apalagi jika faktor kondisi hidupnya mendukung. Terlahir di keluarga yang rukun, kebutuhan dasarnya seperti sandang, pangan, papan, pendidikan dan rasa aman tercukupi, maka dia sudah mengantongi sampai dengan 60% kebahagiaannya.Sisanya baru tergantung usahanya sendiri.

Akhirnya, kalau saya boleh menyimpulkan, hal-hal “buruk” yang menimpa saya belakangan ini merupakan blessings in disguise alias berkah yang tersembunyi. Menyadarkan saya untuk masih harus banyak belajar lagi.

  • Saya nggak boleh menghakimi seseorang begitu saja.
  • Saya mesti selalu ingat, apapun dalam kehidupan ini, gak melulu 100 persen bisa kita kontrol. May be you need to work hard to get what you want. May be you’re born with it. May be it’s Maybelline!
  • Life is a roller coaster. Sometimes you are up, sometimes you are down. But that is perfectly okay!



Advertisements

8 comments on “When the going gets tough

  1. nyonyasepatu
    September 6, 2017

    Fan, tulisannya bagus bgt. Mengingatkan kalau Tuhan selalu bekerja dgn cara yg gak kt sangka2 ya

    Like

    • fanhar
      September 6, 2017

      Auwww… makasih Noni. Jadi tersipu2 nih πŸ™‚

      Like

  2. alma fanniya
    September 6, 2017

    Fan..it’s true! Kadang kita ga nyangka dan ga nyadar ya kl alam bawah sadar kita itu stress..alam sadar keliatan baik2 saja. Gw pun sempet merasakan bangun tidur kepala pusing bangeet..yg ternyata setelah gw telusuri gw stress sm setrikaan! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Like

    • fanhar
      September 6, 2017

      Benerannnn Cong. Apalagi ibu2 macam kita ya. Stres dan capek suka gak dirasain hahaha

      Like

  3. Flowing Northward
    September 6, 2017

    OMG Fan, gue juga baru ngalamin ini banget, dan curiga ada faktor umur juga haha. Memang perlu ngakuin kalau memang kita unhappy dulu meskipun sebabnya nggak jelas buat balik ke our normal Happy self ya. BTW kebetulan banget liat ini, udah lama nggak komen2 dan kebetulan juga hari Minggu ini gue mau ke Ghent. Kalau lo ada waktu dan nggak jauh dari Ghent, Pengen juga ketemuan Fan πŸ™‚ -Ivo

    Like

    • fanhar
      September 6, 2017

      Hi Ivoooo! Apa kabar?
      Lo tinggal dmn skrg?
      Gue lumayan jauh dr Gent… sayang dadakan yaaa. Weekend ini udah dibooking suami ngecat rumah kebun hihi

      Iya nih faktor umur kali hahaha

      Like

      • Flowing Northward
        September 6, 2017

        Masih di Honolulu, Fan. Kabar baiiik, hehe, mulai keluar dari ‘burn out”. Gapapa Fan, emang dadakan juga perginya. Next time ya.. gue lagi mikir2 nih, jadi visiting researcher di Belgi sana musim semi tahun depan, mudah2an bisa ketemuan kalo gue disananya 2 bulan, ga cuma seminggu.

        Like

        • fanhar
          September 7, 2017

          hah, lo burn out? aihh.. semoga cepet pulih 100 persen ya.
          wah kalau lo ke sini 2 bulan wajib banget ketemu…

          Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 6, 2017 by in bla bla bla, thinking.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: