Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Brussels Half Marathon 1 (Pre-Race: The Dilemmas)

Beberapa saat setelah saya mulai rutin lari bulan Maret 2012, sebenarnya saya sudah kepikiran ikut HM. Apalagi di tahun 2012 dan 2013 itu saya lagi rajin-rajinnya long run. Tapi entah kenapa niat itu selalu tertunda. Mungkin karena Half Marathon kurang populer diadakan di race-race besar di sini. Sekalinya ada, tanggalnya kurang sesuai dengan jadwal saya. Mungkin juga karena saya kurang termotivasi dan tertantang.

Mulai akhir 2013, saya mulai jarang long run. Justru lebih rajin nge-gym, yoga, pilates dan cross fit. Kalaupun lari, paling lari cantik doang. Dan memang sudah niat saya untuk back to basic, lari buat olah raga, focus pada kesehatan aja.
Tapi ya itu, kayaknya kok masih ada hutang yang belum lunas. Saya mikir, I still have to do this one last long run, as a closure. Bukannya mau berhenti lari, tapi ya sesudahnya emang pengen rutin lari pendek-pendek aja, paling sesekali 10 miles lah, maksimal.

Jadilah, sekitar bulan Maret 2014, dengan disemangati suami, saya mendaftarkan diri ikut Half Marathon Brussels 5 October 2014. Beberapa hari sesudahnya saya membuat training plan di Nike App.
Nike menyarankan saya mulai berlatih tanggal 14 July.

Oke deh, tanggal 14 July pun tiba, dan besoknya saya malah cabut liburan ke Amrik. Hahaha!
2 minggu di US saya memang sempet lari di NY, Washington dan Boston, tapi ya larinya ala turis dan kebanyakan foto-fotonya dibanding olah raga!
Saya berjanji pada diri sendiri untuk mulai latihan begitu pulang dari Amrik.

Apa daya, janji tinggal janji.
Walaupun hampir setiap hari ada reminder di iphone yang mengingatkan saya untuk berlatih, semua itu malah saya cuekin.
Entah kenapa rasanya malesss banget. Sepertinya saya masih dijangkiti hawa liburan. Bawaannya tar-sok-tar-sok atau ‘minggu depan aja deh mulainya’.
Bulan Agustus saya juga sempet long weekend sama mas bul, dan niatnya habis long weekend mulai training. Eh ternyata malah sakit.
Waktu ke dokter, pak dokter langganan nanya apa saya masih rajin lari. Pas saya bilang kalau sekarang jarang lari tapi bulan Oktober ada HM dia langsung menyarankan untuk ngebatalin. “HM butuh serious training, Fan. Kalau kamu gak cukup latihan mending batalin aja deh Fan.. ” kata beliau. Hmmm

Bulan September, waktunya konsultasi sama dokter spesialis yang menangani masalah asma. Dia pun menyarankan saya untuk membatalkan HM. Oke deh, dua dokter loh ini yang nyuruh. Dan mereka sesama pelari juga dan biasanya justru mendukung setiap race yang saya lakukan. Kalau mereka bilang batalin, pasti udah dipertimbangkan masak-masak. Saya jadi makin mantep buat batalin.
Apalagi di pertengahan bulan saya sempet JJS ke Maroko, pulangnya lagi-lagi batpil parah gak sembuh-sembuh.

Lain kata dokter, lain lagi kata mas bul. Dia malah nyuruh saya tetap ikutan. Katanya coba ajalah, kalau capek ya tinggal berhenti.You’ve got nothing to lose.
Ngeselin deh ahahaha. Kok dia gak mendukung aku untuk batalin sihhh!!!

Jadilah makin dilema.
Antara pengen batal karena ngerasa gak siap dan kasian badan yang dipaksa buat kerja keras tanpa training yang cukup VS rasa penasaran dan ego.
Apalagi karena udah keburu bayar, dan lumayan mahal juga. Artinya kalau gak ikut, duit hilang deh.
Oya sebenernya, dilema saya saat itu bukan karena takut gak bakal finish. Entah kenapa dari dulu saya yakin bakal bisa finish HM (hahah sombong ya, but it’s true).
Kegalauan saya justru lebih kepada kurangnya motivasi dan pertanyaan: ngapaiin sih capek-capek ikut HM? Do you really want to push your body, your untrained body? For what? For a medal and some cheers from your peers?
What are you trying to proof?

Tapi karena dukungan mas bul, hati yang gundah gulana mulai sedikit tenang. Saya mulai mantep untuk tetap ikut HM. Kalau gak sekarang kapan lagi? Ya kan?
Akhirnya saya mulai browsing detil-detil race ini.
Berapa banyak water station, tempat startnya, dsb.
Saat itulah saya menemukan statement ini.

IMG_7560.PNG

OMG.. yang ada saya mulai ketar-ketir lagi. Jika tadinya saya males ikut karena lack of motivation, sekarang saya BENERAN TAKUT buat ikut.
Ini sih gila !
Kalau sebelumnya saya udah siap buat race tapi cukup lari cantik aja (baca: Jalan Kaki!!!), begitu liat statement ini saya sadar kalau gak mungkin untuk lari cantik doang.
Ini sih artinya saya mesti BENERAN LARI. Well at least for the first 14.5 KM.
CRAP!!!

Godaan buat batal kembali mengusik.

Langsung deh saya mengatur strategi. KALAU saya jadi race, saya mesti cari posisi depan buat start. Makin depan makin baik (walaupun posisi terdepan tetap di-reserved buat elite runners).
Saya mulai itung-itungan di start box mana saya harus bersiap dan berapa pace minimal untuk bisa ngejar 14.5 KM sebelum jalanan ditutup untuk pelari (yang artinya kalau pukul 12.39 saya belum sampai di KM 14,5 maka saya DNF: Did Not Finish atau dianggap gagal menyelesaikan race)
Lucunya, ketakutan saya ini justru bikin semangat saya bangkit. Dari yang males-malesan dan kurang termotivasi, justru saya jadi tertantang. Tapi di satu sisi, saya justru mikir kalau saya bakal lari 14.5 km instead of 21 km saking fokusnya saya ngatur strategi. Pikir saya yang penting lolos 14.5 KM dulu. Setelahnya “tinggal” 7 kiloan. Gampang, bisa ngesot itu mah. Hahhaaha!

Selain hal-hal di atas, ada lagi tanda-tanda yang bikin saya makin ciut.
– 4 hari sebelum hari H saya mulai bersin-bersin dan batuk-batuk lagi.
– 2 hari sebelum hari H, kolega datang membawa rute dan profile jalur race. Ternyata banyaaaak tanjakannya, terutama di 7 KM pertama. She (kindda) tried to scare (and maybe stop) me.
– 2 hari sebelum hari H, Al ikut bersin dan batuk-batuk. Wah kalau anak sakit masa iya ditinggal race? Untungnya secara mendadak si kunyil sehat lagi.
– 1 hari sebelum hari H, tamu bulanan datang.

Huaaaa saya bener bener merasa ini konspirasi semesta yang nyuruh saya batal.
Tapi anehnya saya justru makin semangat.
Namun tetap saja sampai detik itu saya masih belum berani bilang ke orang-orang kalau saya bakal HM. Cuma segelintir orang yang tahu.

Hari Sabtu, saya dan mas bul berangkat ke Brussel buat nginep semalam. Sengaja memang kami book hotel buat race. Soalnya racenya pagi, jam 10.30. Jarak rumah saya ke Brussel kayak jarak Bogor Jakarta. Gak jauh, tapi lumayan mesti usaha. Karena saya males ribet jadi sekalian staycation plus pacaran aja ama mas bul dari hari Sabtu.
Sampai sana kami langsung check-in trus jalan ke taman yang ada marathon expo sekalian lokasi start. Di sana ambil race pack dan saya masih mikir-mikir buat ganti jarak dari HM ke .. kids run ahahahah. Mana pas ambil race pack barengan sama cowok-cowok atletis bertampang olahragawan pula. Aje gila, aku merasa terintimidasi deh :))

Di Expo saya sempet liat-liat stand running event buat tahun depan. Ada Dusseldorf Marathon, Rome Marathon, Prague Maratahon. Ih jadi mupeng, padahal niatnya cukup sekali dan terakhir ini bakal long run lagi.. ahaha

IMG_7504.JPG

IMG_7551-0.JPG

Oya, sempet foto-foto di photo booth juga! hahaha

IMG_7550-1.PNG

Malamnya saya carbo loading, makan risotto dan panna cotta di resto italia kecil deket hotel sama mas bul. Malamnya bobo cepet dan untung langsung pules tanpa mules-mules.

IMG_7523-1.JPG

IMG_7525-1.JPG

One comment on “Brussels Half Marathon 1 (Pre-Race: The Dilemmas)

  1. Pingback: Brussels Half Marathon 2 (The Race Day) | Four Seasons In Belgium

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 6, 2014 by in bla bla bla, In Belgium, sosporty.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: