Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Judging me, Judging You

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah punya resolusi tahun baru untuk be less judgmental. Gak sembarangan menilai orang. Tapi ya gitu deh, sama seperti resolusi tahun baru lain, biasanya cuma bertahan sampai bulan Februari. Begitu Maret udah rada-rada lupa. Memasuki pertengahan tahun udah blas gak inget sama sekali hehehehe.

Padahal dari kecil saya udah diajarin ya buat gak menghakimi orang berdasarkan suku, agama dan ras. Buat gak milih-milih teman berdasarkan status sosial mereka. Dan perasaan sih dulu saya waktu kecil nurut sama pelajaran PMP. Asyik-asyik aja bergaul dengan teman dari berbagai kalangan.

Saat udah tua, ehm maksudnya dewasa, saya menyadari kalau berteman gak seindah ilustrasi buku pelajaran waktu SD. Pilih-pilih teman itu biasa, bahkan mungkin harus karena life is too short buat dihabisin sama orang-orang yang gak asyik. Wajar juga kalau pengalaman hidup mengasah intuisi kita jadi makin tajam untuk selalu selektif. Karena kita selalu dihadapkan dengan pilihan, mana yang baik dan mana yang buruk. Dan apa yang gak baik harusnya sih ditinggalkan.

Sekali lagi, itu normal. Bahkan wajib hukumnya.

Namun terkadang, kita jadi dengan gampangnya menilai orang seenak udel. Paling parah, kalau menilainya cuma berdasar penampilan atau merek barang yang dia kenakan / tidak kenakan.

Contohnya si Anu gak pake designer handbag maka dia dipandang sebelah mata.

Si Anu lainnya pake tas designer, tapi dari jenis yang kurang mahal sehingga dia dianggap ‘wanna be’ yang norak dan kurang high class (karena tasnya walaupun bermerek tapi cuma berharga ratusan dollar, bukan ribuan dan gak sesuai dengan standar para fashionistas).

Lalu ada golongan Anu yang mentertawakan Anu-Anu lain yang pake tas branded dan menganggap mereka shallow, snobbish, pamer dan doyan buang-buang duit karena, ngapain juga sih pake tas bermerek?

Ngaku, dulu saya termasuk kelompok Anu kedua dan terakhir. Tapi lama-lama saya menyadari kalau itu artinya saya gak kalah snob-nya sama orang-orang yang memandang sebelah mata mereka yang gak pake branded goods (atau pake branded goods yang kurang mahal). Menilai orang dari barang yang mereka pakai sama aja dengan menilai orang dari barang yang TIDAK mereka pakai, kan?

Lagian, duit-duit mereka, apa urusan saya? Bahkan seandainya mereka sampai ngutangpun yang mesti bayar kreditnya bukan saya kan? Jadi kenapa mesti ribut. hehehe

Padahal, dari dulu saya percaya bahwa fashion is for everyone. Fashion is not only for the skinny or the rich.

Fashion should be individual.
Jadi, kalau ada orang gendut pakai bikini on the beach, it’s totally her right. Malah saya kagum dengan kepedeannya. If you think it’s not a pretty sight, then don’t look. Simple kan?

Begitu juga bagi orang yang memilih pake tas dari plastic kresek, karung goni, merek gak dikenal, merek desainer yang ‘nanggung’ atau yang totally ‘high class’ sekalian.

It’s their choice. It’s their right. It’s none of my business.
Judging them doesn’t make me a better person.
Jusru sebaliknya.

Now the question is; when can we stop judging others?

.

.

.

.

Can we ever?

17 comments on “Judging me, Judging You

  1. fibenewyork
    September 29, 2014

    Never🙂 it is a human nature. Menurut aku, ngak ada salahnya pake barang-barang branded yang mahal, uang-uang sendiri dan dapatnya halal kok. Ada lagi golongan orang-orang Indonesia di US dan Canada. Kerja boleh di manufacturing floor tapi tasnya branded. Setelah itu ketahuan credit card fraud.😦

    • fanhar
      September 29, 2014

      yup, setiap orang punya rejeki dan prioritas masing-masing. bahkan seandainya alasan mereka gak sesuai dengan pandangan gue, still it’s not my biz hehehe. gue sendiri gak yakin bisa bertahan gak pake barang bermerek seandainya lingkungan gue pake semua. untungnya sih gak jadi gue bisa santaiii hehehe

      Sent from my iPhone

  2. joeyz14
    September 29, 2014

    Kinda hard ya…kadang ga terucap ama mulut tapi terlintas dipikiran…ttp aja kita judging kan ya judulnya..hehehe…

    • fanhar
      September 29, 2014

      haha iya. kadang kita nggak nyadar ya.. dan kayaknya untuk 100 persen ngilangin juga susah. yang penting mungkin gak usah nyiyir kali ya hehhe

      Sent from my iPhone

  3. Duuuh termasuk yang urutan ketiga nih.. Tapi yaa bener sih, lama-lama mikir, lhaaa duit juga duit dia ngapain gue yang pusing.
    Dulu sih masih keluar tuh ucapan gitu dari mulut. Tapi lama-lama bisa ngerem. Cukup melintas di pikiran. Hahahaha sama aja yaa mbak.. Well at least nggak ghibah. Plus sekarang bisa ngeliat dari sisi lain, bisa mikir “alhamdulillah rejeki dia segitu. Kalo mau juga yaa usaha.” Jangan ngitungin rejeki orang katanya. Kan dilihat itu sudah diedit. Kan kita nggak liat usaha, kerja keras, nangis dia buat dapetin barang itu. Bisaa kita bisa kok..

    • fanhar
      September 29, 2014

      Yuppp. tiap orang punya alasan sendiri. And there’s nothing wrong to want to have nice things in life apalagi kalau dianya udah kerja keras untuk itu, ya kan. dan gak bisa dipungkiri sih kadang penampilan menunjang itu ngebuka jalan. hehe. saya suka mikir pengen beli designer travel bag buat traveling siapa tau langsung diupgrade. #ngarep 😂😂😂

      Sent from my iPhone

  4. mrscat
    September 30, 2014

    Ga bisa completely ngilangin sifat “menilai” seseorang krn ya itu bagian dari instinct yg penting buat survival. Kita make instinct yg sama buat ngebedain org yg jahat dg yg tidak (menurut kita). Tapi kalo menurutku bisa dinetralisir dengan ngelihat diri sendiri. Setiap kita udah mikir “ih si anu bgini” liat diri sendiri, am i any better than si anu sehingga berhak merendahkan si anu (entah merendahkan merk yg dipakai, merendahkan penampilan, merendahkan kepribadiannya dg menganggap shallow dsb). At the end, we often mention “dont judge the book by its cover” yet the saying never becomes too cheesy because as human, people keep judging others based on their cover

    • fanhar
      September 30, 2014

      bener nov, saat nulis pun gue teringat bahasan tentang being racist and prejudice. memang udah insting manusia buat lebih cautious pada sesuatu yg ‘asing’ tapi ya memang harus difilter apa yg kita pikirin dan aplikasikan dlm tindakan. gue jg mikir begini saat gue ngeliat orang2 ngomongin soal penampilan orang lain trus nyadar how bitchy it actually sounds. saat itulah gue jd ngaca and decided to (at least try to) stop

      Sent from my iPhone

  5. ndutyke
    September 30, 2014

    Being judgemental asalkan dalam hati aja, menurutku gpp. Tetep dosa sih. But at least kan udah cukup ditelen sendiri aja pendapatnya. Ga usah disampaikan ke org lain.

    • fanhar
      September 30, 2014

      tapi kalau ditahan dalam hati aja jadi kentut dan jerawat gak sih? hahahaha

      Sent from my iPhone

      • ndutyke
        September 30, 2014

        oh so thats why aku sering kentut……

        *tepok jidat*

        hahahaha…..

        • sondangrp
          October 1, 2014

          or me being jerawatan. Dan itupun masih banyak yg keluar jadi nyinyiran *lakban mulut dan pake biore pore pack*

          • ndutyke
            October 1, 2014

            Aku yo skrg jerawatan. Either ga cocok ama winternya ato krn byk memendam praduga, hahaha

  6. sondangrp
    October 1, 2014

    Faaaaan being judgemental ini salah satu penyakitku selain kesabaran dan emosian . Hiks. Working on it very muuuucch. Aku seperti yang Tyka bilang, saat ini paling tidak mencoba ditahan dalam hati dulu. Beberapa kali aku sok menjudge orang, dan ternyata malah kejadian di aku. ihik. Kalo di alkitab kalimatnya yg nendang aku banget tuh “takaran yang kau pakai untuk mengukur orang lain akan diukurkan padamu juga” ihik kan nendang banget secara selama ini daku seringnya double standard dooong ke diri sendiri sama ke orang lain ihik

    • fanhar
      October 2, 2014

      ah setujuuuuu, sabar dan gak emosian juga pr banget nih buat aku. intinyz pengendalian diri sih ya, heheh. susah bener emang!!!
      dan bener banget, kayak karma dan kemakan omongan sendiri sih, biasanya habis ngetawain orang bakalan kejadian dehnke diri sendiri. heheheh.

  7. Maya
    October 1, 2014

    Ah ini masih pe’er, masih resolusi yang dari tahun ke tahun ya gitu deh😀 *toss*
    emang kadang gak bisa nahan untuk gak nyinyir sih mbak, gak bisa nahan untuk gak judgemental cuma *pembelaannya* nyinyirnya cukup sepetri kata mbak Tyka, cukup dalam hati aja. Diucapkan ke orangnya pun gak ada gunanya juga sih😀

    • fanhar
      October 2, 2014

      yang susah kalau ketemu orang2 yang satu pemikiran dan itu godaannya berat banget sih buat gak ngomongin hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 29, 2014 by in thinking.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: