Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

sistem sekolah di belgia

Hallo..
Udah lama ya gak cerita tentang Belgia. Nah sekarang saya mau cerita tentang system pendidikan di sini. Berhubung neng masih kelas 5 SD, jadi pengetahuan saya tentang sekolah gak terlalu banyak. Makanya post ini adalah hasil dari gabungan pengalaman pribadi, cerita yang saya  tangkep dari Jo, keluarga, teman-teman plus si pintar wikipidia! Haha🙂

Pada dasarnya pendidikan di Belgia dibagi menjadi 3, mirip seperti di Indo: Basic, Secondary dan Higher Education. Kalau program wajib belajarnya itu usia 6 -18 tahun atau saat seseorang lulus Secondary School (lulus SMA). Dan program ini lumayan ketat yah, bolos beberapa hari aja bisa jadi masalah katanya. Setahu saya (karena ibu mertua guru), sejak beberapa tahun terakhir ini, kalau ada yang bolos terutama dihari-hari tepat menjelang atau sesudah libur sekolah, pihak sekolah harus melaporkan si pembolos langsung ke pusat (Brussel). Saya kurang tahu konsekuensinya apa. Mungkin tidak secara langsung, tapi denger-denger pemerintah lagi membicarakan untuk mengeluarkan hukum mencabut tunjangan sosial si anak (setiap anak di Belgia mendapat tunjangan sosial sampai umur 18 tahun). Artinya kalau keseringan bolos, bisa jadi penghasilan ortu berkurang. Nah loh!

In short, they kindda take ‘program wajib belajar’ very seriously here.

Kalau saya pribadi sih, karena neng memang super disiplin dan bapaknya juga gak terima kata bolos, jadi kita hampir gak pernah cabut pas jem pelajaran sekolah (nyebelin ye hehehe).

Pendidikan Dasar di bagi 2: Pre School (TK) dan Primary (SD). Seorang anak boleh masuk TK sejak umur 2.5 tahun. Biasanya gak perlu tunggu tahun pelajaran baru mulai (September) untuk mulai masuk sekolah. Banyak TK yang membuka kelas mereka 3-4 kali dalam setahun. Dulu waktu neng berumur 2.5 tahun, dia mulai masuk sekolah bulan January 2007. Dan dari hari pertama udah dilepas begitu aja sendirian. Gak ada acara mama ngintip dari  balik jendela sepanjang jam pelajaran, apalagi ikut masuk dalam kelas! Begitu bel berdentang, semua ortu/ nenek/kakek/pengantar harus cabut meninggalkan lokasi sekolah. Inget banget, pas di anter ke sekolah, kita langsung ‘serah terima si neng ke ibu guru yang langsung gandeng tangan neng. Al mukanya rada bengong kayak mikir, “aku pengen nangis deh rasanya.. tapi kok kayaknya gak perlu ya. Hmm mo nangis gak yah.. ” Hehehehe. Matanya rada berkaca-kaca sih tapi kayaknya somehow dia mutusin untuk gak jadi nangis. Good girl!

 firstdayatschool 010

Sebenernya TK ini gak wajib hukumnya, tapi katanya 90 persen anak di Belgia udah masuk TK dari umur 2.5 tahun. Mungkin karena banyak mama yang juga bekerja ya. Kabarnya juga, sekarang wajib belajar mau dimajuin dari umur 6 tahun ke 5 tahun alias setiap anak wajib untuk paling tidak menjalani tahun terakhir di TK sebelum masuk SD. Supaya mereka lebih gampang beradaptasi pas di SD kali ya.

Oya, jam pelajaran sekolah secara umum berlangsung dari pukul 08.30 sampai 15.30 setiap hari, dengan waktu istirahat dari pukul 11.45 –  13.00 (bisa beda sedikit tiap sekolah). Hari Rabu sore, Sabtu dan Minggu libur.

Jam ini berlaku bagi TK, SD, SMP/SMA. Jadi dari umur 2.5 tahun banyak juga anak-anak yang sekolah seharian. Kalau Neng sih 2-3 tahun pertama di TK cuma ikut setengah hari, dari jam 08.30 sampai jam 11.45. Setelah itu dia pulang makan siang sama Oma, terus di drop di rumah Oma Buyut buat bobo siang. Ketika dia mulai TK besar dan sekolah seharian, kata ibu guru dia suka terkantuk-kantuk kalau siang.. ahhaha. Apalagi kalau pas jam pelajaran dongeng. Yang ada dia mojok sambil setengah bobo.. ehehehehe..

Walaupun kesannya ‘berat’ karena jam pelajaran berlangsung dari pagi sampai sore (kecuali Rabu yang setengah hari), tapi gak ada calistung. Jadi setiap hari mereka paling main dan bikin prakarya atau nyanyi dan mendengarkan cerita.

Selesai TK, sama seperti di Indo di Belgia ada SD yang juga berlangsung selama 6 tahun. Mulai SD ini anak-anak diajarkan baca tulis. Walaupun ada pelajaran lain tapi saya merasa kelas 1 sampai 3 anak-anak benar-benar fokus belajar baca tulis dan matematika sederhana. Secara berkala anak-anak dites kemampuan membaca mereka. Ada 9 level kemahiran membaca yang disebut AVI dan katanya mayoritas anak akan mencapai level 9 (tertinggi) saat mereka kelas 4 SD. Saya kurang tahu bagai mana system penilaiannya, tapi sepertinya ibu guru menilai tingkat kelancaran, ketepatan, kecepatan dan pemahaman membaca si anak. Saat mencapi level 5, si anak akan mendapatkan ‘diploma kecil’, dan saat mencapai AVI 9 si anak mendapat ‘diploma besar’. Al dapat diploma kecil waktu lulus kelas 1 dan diploma besar saat lulus kelas 2. She’s one of the firsts kids in her class! Yay!

Menurut saya sistem AVI ini lumayan bagus juga karena banyak buku anak yang mencantumkan AVI di cover mereka. Jadi kalau ke perpustakaan/toko buku saya tinggal ke bagian AVI yang tepat dan memilih buku yang sesuai dengan kemampuan membaca dan pemahaman Alyssa.

Sewaktu kelas 1-3, saya merasa pelajaran neng gampaaaang bener, apalagi kalau dibanding dengan Indonesia. Karana seperti yang saya bilang di atas, mereka bener-bener fokus baca tulis termasuk menulis indah. Setiap minggu Alyssa dapet buku cerita yang disesuaikan dengan tingkat AVI-nya kala itu untuk dibaca di rumah. Mulai kelas 2, dia tidak hanya disuruh menulis tapi juga membuat laporan singkat tentang buku yang dibaca. Sampai kelas tiga pun begitu, walaupun Alyssa sudah lulus AVI tertinggi tapi karena banyak teman sekelasnya belum lulus plus mungkin memang kurikulumnya masih focus baca. Oya, setiap beberapa minggu sekali, ibu guru dan anak-anak juga pergi ke perpustakaan kota bareng untuk memilih buku. Intinya, baca baca baca!

Satu lagi yang terasa significant dibanding pengalaman sekolah saya di Indo dulu, di sini Al sering banget disuruh presentasi. Terutama waktu kelas 3. sepertinya hampir tiap bulan ada proyek yang harus dibuat dan dipresentasikan oleh si neng. Lumayan sih, bikin neng belajar public speaking sejak dini.

Sekarang Al naik ke kelas 5. Kata temen saya yang udah lebih lama tinggal di Belgia dan punya anak lebih besar, begitu kelas 5 berasa banget pelajaran jauuuh lebih susah. Ya moga2 aja Al bisa ngikutin dan tetep berprestasi terus ya. Dan yang penting tetep cinta sekolah dan belajar kayak sekarang, amin.

Yang jelas, di kelas 5 ini bakal ada pendidikan s3ks resmi dari sekolah. Jeng jeng!🙂

Setelah lulus SD, anak-anak masuk ke secondary school atau kurang lebih sama seperti sekolah menegah di Indonesia, yang berlangsug selama 6 tahun. Tapi kalau di Indo di bagi 2: SMP dan SMA, di Belgia di bagi 3 cycles. Di sini juga ada pembagian macam sekolah menegah umum, sekolah menengah teknik (macam STM), sekolah menengah ketrampilan. Sama seperti di Indo, sekolah menengah umum biasanya dipilih buat anak-anak yang kepingin melanjutkan ke perguruan tinggi nantinya. Sementara anak-anak yang ingin langsung bekerja atau lebih berbakat di bidang ketrampilan dan pertukangan biasanya memilih sekolah menengah teknik atau ketrampilan, walaupun mereka tetap bisa melanjutkan ke PT nantinya.

Soal biaya, sekolah di Belgia bisa dibilang murah sekali. Pendidikan Dasar (6-18 tahun) itu gratis di sini. Bahkan TK pun gratis. Paling-paling orang tua murid hanya diminta membayar biaya-biaya kegiatan sekolah tambahan. Itupun tiap tahun ada plafond maximalnya. Kalau gak salah peraturannya pas Al kelas 1-2 SD, sekolah maksimal menarik biaya 60 Eur (960 ribu rp) per anak per tahun pelajaran. Semakin besar, maka biayanya naik sedikit. Kegiatan tambahan yang dimaksud di sini itu macam berenang, skating, outing sekolah, teater / panggung boneka, dll.

Buku, LKS, pulpen, spidol, pensil warna, agenda, map dan perlengkapan sekolah lainnya semua juga gratis dan disediakan sekolah. Ortu cuma harus menyediakan tas, tempat bekal, beli baju olah raga dan renang. Kadang-kadang di awal tahun pelajaran ibu guru meminta ortu menyediakan beberapa alat tambahan macam jangka, cat air dsb, tapi nggak wajib juga dan kalau ada ortu yang gak mau/mampu nyediain, bisa bilang ke ibu guru. Eh tapi kalau soal ini kayaknya beda tiap sekolah/tingkat pendidikan karena beberapa temen saya ada yang harus membeli buku dan peralatan sekolah sendiri.

Waktu Al masuk SD saya udah semangat banget beli peralatan sekolahnya. Eh ternyata gak perlu loh, karena udah disediain sekolah. Masing-masing anak sudah dapat beberapa pensil tulis, pensil warna, penghapus, rautan dsb di laci mereka. Dan walaupun barang gratisan, tapi juga gak kumel gitu. Semua baru dan lumayan bagus kualitasnya (contoh, pensil warna dari staedler).

Oya, selama kelas 1-4 semua buku pelajaran di simpen di sekolah. Paling-paling yang di bawa pulang agenda plus buku/LKS yang harus dikerjakan sebagai PR atau dipelajari sebelum ulangan.

Dulu pas akhir tahun pelajaran, saya sampai kaget waktu alyssa pulang bawa banyaaaak banget buku dan lks hasil kerjanya selama setahun. Semua materi dikumpulkan dan dijilid serta diberi nama oleh bu guru. Bisa dibilang ortu gak mestin ngapa-ngapain selain mendampingi belajar di rumah sehari-hari.

Beberapa tahun yang lalu  saat membaca diskusi ibu-ibu di Indonesia tentang Tabungan / Investasi dana pendidikan, dan biaya kuliah yang sangat tinggi plus inflasi yang menggila  tiba-tiba saya stres berat. Saya baru nyadar kalau selama di Belgia, saya nggak pernah denger istilah ini. Kami memang punya tabungan dan investasi untuk Al, tapi judulnya bukan dana pendidikan. Malah waktu buka beberapa rekening nggak kepikiran untuk apa, cuma otomatis aja, namanya punya anak ya mesti nabung buat masa depannya. Justru waktu itu lebih kepikiran buat nabung dengan harapan duitnya nanti cukup buat dia bisa keliling dunia atau beli tanah/rumah.

Ditengah kepanikan, buru-buru saya ngomong (atau lebih tepatnya teriak drama) ke mas bul. Omaygod omaygod, kita gak punya tabungan pendidikan buat al. Gimana kalau dia kuliah nanti duit kita gak cukup huhuhu.

KMB Cuma ngelirik istrinya yang lebay ini dengan bingung. Ternyata, walaupun TIDAK GRATIS, biaya kuliah di Belgia murah sekali. Menurut Jo, dengan income kita saat ini harusnya udah cukup buat bayar uang kuliah. Gak perlu tabungan khusus (pantesan gak ada istilah tabungan pendidikan di sini, paling cuma ada tabungan buat anak).

Kayaknya biaya tuition pertahun sekitar 1000-2000 euro pertahun tergantung jurusan (belum termasuk biaya buku). Tentunya kalau si anak pakai kos dsb, biaya akan melesat tajam ke 4000-5000 pertahun.   Sangat terjangkau kan, apalagi dibanding TK/SD international di Jakarta yang biayanya bisa 5 kali lipat.. hehehe

Bagaimana soal kualitas?

Menurut saya susah ya ngomongin ini, karena saya rada kurang percaya dengan sistem rangking sekolah setiap negara.

Apalagi saya percaya kalau keberhasilan pendidikan seseorang lebih banyak ditentukan oleh dirinya sendiri.

Tapi terlepas dari itu, standar pendidikan di Belgia sih sangat baik bahkan beberapa menilai sebagai salah satu negara dengan sistem terbaik di dunia (top 20, terutama di bagian Flemish Region yang standarnya lebih tinggi dibanding Wallonia dan Brussel).

Oya, yang saya diomongin di atas hanya sistem pendidikan bagi anak-anak pada umumnya ya. Kalau anak yang membutuhkan sekolah khusus saya kurang tahu. Katanya sih kalau anak yang sekolah SLB dapet fasilitas antar jemput gratis plus makan siang di sekolahnya. Lalu buat anak-anak yang sakit keras (misalnya anak penderita kanker) yang harus tinggal di rumah/RS, sepertinya mereka mendapat tutorial khusus plus belajar via online. But don’t quote me on that karena saya Cuma pernah nonton TV sekilas. Jadi gak terlalu paham detilnya.

Anyway, this is one of the things that makes me feel blessed to live here.

Kesejahteraan dan hak anak mendapat pendidikan mendapat perhatian dan support dari pemerintah dan masyarakat.

No child is left behind, free education for them!

Semoga suatu hari nanti, semua anak di Indo dan seluruh dunia akan mendapat kesempatan yang sama (atau lebih baik)!.

Let’s say amen to that!

IMG_6203.PNG

14 comments on “sistem sekolah di belgia

  1. Maya
    August 14, 2014

    Amiin. Tiap baca postingan tentang sekolah di LN bikin mupeng deh mbak😀
    Anak TK, SD disini bebannya gak kalah sama anak kuliah. No kidding. Mereka ke sekolah aja bawanya koper geret bukan lagi ransel😆
    Soal biaya pun, sekarang punya anak tabungan pendidikan & investasinya mesti di mulai dari 0 (nol) lho alias baru rencana punya anakpun (belum mbrojol), tabungan dan investasi pendidikan harus udah ready. Itu karena sekarang masuk TK aja bisa jutaan. Ngeri juga sih. Makanya pasangan muda kayak aku banyakan masih nunda atau punya anak maksimal 1 aja. Mudah mudahan nantinya pendidikan kita bisa merata, gak mahal, dan kualitasnya mumpuni🙂

    • fanhar
      August 14, 2014

      aminnnn may…
      harapan terbesar aku buat indo salah satunya pendidikan dan fasilitas kesehatan gratis/terjangkau dengan kualitas yang baik.
      emang ngeri kalau dengerin harga sekolah di indonesia. aku kagum sama ortu-ortu di sana:)

  2. veronica5277
    August 14, 2014

    Salam kenal mb Fanny… dah lumayan lama jadi silent reader… gak tahan buat gak komen kali ini. Saya iriiiii sama model pendidikan di situ… bisa ya bikin sekolah gratis gitu dengan standar yang gak main-main. Okelah di Yogya sudah mulai SD-SMP gratis… tapi standar masih dipertanyakan, dan jatuhnya kalo pengen sekolah yang sesuai yang kita inginkan ya kudu ke swasta, hiks. Jadi memang kudu mengaminkan doa mb Fanny supaya yang namanya pendidikan bisa merata dan gak perlu mahal-mahal….

    • fanhar
      August 14, 2014

      hi veronica..
      asyik akhirnya komen juga🙂
      well, slowly but sure sepertinya udah ada kemajuan. awalnya gratis dulu semoga lama-lama kualitasnya pun meningkat.
      amiiin..

  3. Cut Isyana
    August 14, 2014

    Hai Mbak.. seneng deh baca postinganmu, kayak flashback lagi pas main ke eropah sono. Hihi.
    Tapi emang ya kalau dipikir-pikir kenapa sistem edukasi di Indonesia gak keliatan ada kemajuan gini. Yang ada malah makin buat pusing siswanya dan juga orang tuanya akibat si bayaran sekolah makin melejit tinggi.

    Salam buat Neng, Mbak😉

    • fanhar
      August 14, 2014

      hahaha.. kapan main ke yurep lagi?
      iya sekolah mahal makin banyak, tapi semoga yang terjangkau juga makin banyak yaaa.
      aduh si neng GR deh disalamin🙂

      • Cut Isyana
        August 15, 2014

        Insya Allah secepetnya… kalo ada yg ngajak pergi gratisan :))

  4. wiwit
    August 18, 2014

    fanny, setelah baca ini akhirnya aku mantap untuk menolak kewajiban les calistung di sekolah Kira & Kara. hahahaha.. :))

    • fanhar
      August 20, 2014

      hehehe.. kasian ya wit kalau dipaksa harus bisa sebelum masuk SD. yang ada malah bete nanti anaknya

  5. Bonnita
    August 19, 2014

    ya ampun aku iriii banget sama biayanya😦
    kayanya disana bayar pajak itu bener2 kerasa manfaatnya yah hiks2..
    aku juga termasuk one of ibu2 yang kuatir akan dana pendidikan… , hmm apa pindah ke luar negeri aja ya hahaha

    • fanhar
      August 20, 2014

      i can understand.. haha. gue aja stress kalau dengerin ibu2 di indo ngomongin biaya pendidikan, gimana kamu yg ngalemin sendiri. moga2 dilancarin rejekinya dan sistem pendidikan indo membaik dan terjangkau ya

  6. anovansa
    August 26, 2014

    Amiin, ijin share ya mba Fan

  7. Firman
    January 9, 2015

    Kalau mau tahu lebih banyak soal pelaksanaan pendidikan di belgia, link-nya apa yah? Misalnya untuk mata pelajaran yang dipelajari di sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 13, 2014 by in bla bla bla.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: