Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Parenting Style, what parenting style?

Jujur, waktu pertama kali dikasih topik ‘Parenting Style’ sama Mia, saya rada males mau nulisnya. Habis rasa-rasanya saya dan KMB gak punya gaya tertentu dalam membesarkan Al.
Tapi entah kenapa, usul ini kebayang-bayang terus dan seperti biasa saat saya punya ide buat nulis, maka otak saya langsung jadi mengeluarkan serentetan kata-kata yang mendesak untuk ditulis. Cieh.

Saya sendiri juga bisa dibilang hampir gak pernah baca parenting books, jadi kurang paham juga apa yang dimaksud dengan parenting style.
Makanya apa yang saya tulis berikut ini, ya cuma gaya-gayaan cara mendidik dan membesarkan anak ala saya dan Jo ya..

2 against one
Ya maap-maap aja ya Neng.., it’s you against mama and papa. Ahahaha.
Memang sudah jadi kesepakatan saya sama Jo kalau segala keputusan tentang Al itu harus dibuat bersama. Mulai dari keputusan yang paling kecil sampai yang besar, kalau Jo bilang gak maka saya harus bilang gak. Kalau saya bilang iya, maka Jo juga harus bilang iya. Kalau kami gak setuju satu sama lain ya berantem dan diskusi dulu dibelakang Alyssa sampai tercapai kata musyawarah dan mufakat. Hahaa!

Contohnya, kalau Al minta nonton TV dan papa melarang, lalu di belakang papa, Al minta nonton sama mama. Karena mama gak tahu, mama kasih ijin buat Al. Tapi saat mama tahu kalau sebelumnya papa sudah melarang, maka mama akan segera mematikan tivi. Begitu juga dalam soal memberi hukuman. Siapa yang kasih hukuman, dialah yang berhak memberhentikan masa hukuman. Misal, Al dapet time out dari mama dan dia nangis melolong di sudut ruangan. Papa gak boleh ngebantuin/nyamperin Alyssa. Cuma mama yang boleh memutuskan kapan masa hukuman Al berakhir dan nyamperin neng. Kalaupun papa gak setuju dia bisa nego sama mama. Nawar supaya masa hukuman anak wedhoknya dikurangi. Tapi tetep, hanya mama yang boleh nyamperin Al pertama kali dan bilang she’s no longer grounded.
Yup, we are so strict in applying this rule.
Kenapa? Karena kami mau Al tahu kalau mama dan papa itu satu tim. We make the decision together. Supaya Al gak bingung, dan supaya Al menghormati kami berdua equally.
Kami suka melihat, di beberapa keluarga, salah satu orang tua jadi pihak yang dominan karena dialah si pengambil keputusan. Akibatnya, tak jarang anak-anak jadi kurang respek dengan pihak yang lain. Buat apa minta ijin sama papa kalau toh mama yang akan memutuskan boleh pergi nonton bioskop atau tidak? Akhirnya si papa nggak punya autoritas di dalam keluarga.
Nah, kami gak mau itu terjadi dalam keluarga kami.

All can be discussed. No topic is taboo, stupid, or irrelevant
Pokoknya Al harus bisa santai ngomong apapun ke saya/papanya tanpa merasa kalau itu topic terlarang.

we are here, no matter what
whatever happened, whatever mistakes were made, life goes on and mama papa will be there for Al. hence point no 2: gak usah takut untuk berdiskusi. Apapun itu. We are family and we will solve the problem together. Hand in hand.

Pernah denger tentang ‘french parenting style’?
well for the record, saya gak pernah baca bukunya dan sebel aja kenapa namanya mesti ‘french’. Oh those American, apa-apa dibuat so romantic dan komersil dengan melabel ‘french’, padahal mah menurut saya ini lebih ke European style of raising kids. Hahaha.
Gak hanya di Prancis yang begitu!
Anyway, mungkin kalau mo dilabelin, gaya parenting saya dan Jo lebih mengarah ke sini walaupun ya gak sama persis juga. Tapi pada dasarnya kita bukan tipe yang langsung menghentikan apapun yang kita lakukan kalau Al demand attention. Kalau bukan sesuatu yang urgent atau anaknya gak kesakitan atau kenapa-kenapa, then we might ask her to wait. When she throws tantrum, we can (and probably will!) ignore her. When she wants to cry, we let her cry (bahkan gara-gara ini Al suka pamit dulu kalau mo nangis, Huhuhuuhu mama aku mo nangis dulu huhuuhuhu.. terus dia menyepi, vent her frustration by crying dan biasanya beberapa menit kemudian cup diem trus ke mama/papa lagi trus ngobrol aja lempeng kayak gak ada apa-apa. Kalau ditanya tadi kenapa nangis, biasanya dia udah lupa. Hihi)

Kami juga gak punya cita-cita spesifik buat Al. Yang kami mau dia menjalani hidupnya sesuai dengan keinginannya. She doesn’t have to be a doctor, or a president, or a lawyer, or a top ballerina. Hell, if she doesnt want to go to university, that’s fine with us too!
As long as she live her life to the fullest and do her best and happy and content and kind..
Also one of the most important thing: I want her to know that she’s enough.
She doesn’t have to prove herself to anyone. She is enough and we love her the way she is.

Saya dan jo cuma berjanji kami akan mendukung apapun kemauan Al dan berusaha mencukupi kebutuhannya. Jadi misalnya Al pengen belajar tehnik informatika atau ilmu politik atau cooking school atau belajar potong rambut di sekolah termahal di dunia, we just have to be able to afford it.
Amin, semoga dilancarkan yah.

Eh, walaupun terkesan jauh dari kiasu dan jadi tiger mother, ada satu hal yang rada saya “paksain” ke Alyssa: membaca.
Dari bayi dia udah saya bacain. Saya juga berusaha menciptakan suasana dan prasarana yang mendukung dia untuk suka membaca. Soalnya saya yakin, membaca buku -bahkan roman ‘picisan’ sekalipun- akan membuat hidupmu lebih kaya. Buku iti jendela ilmu kan.. katanya?

Dan meskipun kami bukan tipe ortu ambisius dan menuntut anak untuk berprestasi, tapi kami berharap Al untuk selalu memberikan yang terbaik dan bertanggung jawab dengan menyelesaikan tugasnya. We are not raising a quiter, seperti yang pernah saya ceritain di sini saat al belajar surfing

Ya udah deh, kayaknya segitu doang yang bisa saya ceritain. Habisan beneran kami berdua itu santaiiii banget urusan parenting. Gak pernah baca buku khusus (Cuma awalnnya doang pas Al bayi itupun hanya satu buku yang abis kebaca), gak pernah ikut seminar… pokoknya jauuuh dari ciri-ciri orang tua ideal.
Kemaren, gara-gara mesti nulis soal parenting style, saya sempet ngegoogle dan menemukan satu link quiz yang mententukan tipe ortu macam apa saya. Dan hasilnya…

Perfect Parent Syndrome, points -18. Bayangin MINUS delapan belas !!!
Ahahaha

You scored very low on this scale. According to your responses you cant imagine why anyone would strive to be a perfect parent. You don’t want to invite that kind of stress in your life, or for that matter, into the lives of your kids. You want them to be able to enjoy their childhood and look back fondly on it. Kids will eventually grow up, regardless of what you do. You trust that even if you let them watch TV and even if you aren’t their Little League coach, they will still manage to become happy and functional people.

Menurut saya ini spot on bener.
I guess deep down inside, saya juga ngerasa Al punya potensi to get whatever she wants in her life. And of course I will help her as much as I could.
But letting her watch TV or eat candy once in a while will not jeopardize her future.

And at the end of the day, I guess as a mom you have to accept that there is no such thing as being a perfect parent. There is no guarantee. You can only do what you think is best, and let your kids live their lives.
And pray, that God will always protect them.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 10, 2013 by in motherhood.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: