Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

boston marathon: why are we not allowed to grieve?

sebelum berangkat tidur semalam, saya dikejutkan dengan berita pemboman di event Boston Marathon. 3 orang meninggal dunia dan puluhan luka parah. belakangan juga diberitakan banyak korban yang harus merelakan anggota tubuhnya akibat ledakan bom.

banyak orang marah. banyak orang mengutuk. banyak orang khawatir. banyak orang sedih. banyak orang bersimpati dan menunjukan bela sungkawanya.

tapi, ternyata diantaranya juga banyak orang yang mencibir: kenapa pemberitaan tentang kejadian ini begitu heboh? mentang-mentang kejadiannya di amerika. padahal di belahan dunia manapun, banyak kejadian yang lebih tragis lagi. lebih tidak punya nurani. lebih banyak memakan korban. tapi kok gak ada yang heboh? gak ada yg pasang hashtag seperti #prayforboston?

jujur saya tercengang. bingung kenapa kok sepertinya saya gak boleh bersedih atau bersimpati? kenapa kok satu tragedi harus dibandingan dengan tragedi lain? kok, jadi seperti perlombaan? what you feel is nothing; i suffer more than you?

well, daripada bingung sendirian mungkin sebaiknya saya menjelaskan apa yang saya rasakan dan kenapa saya terlihat lebih sedih pada satu kejadian dibanding kejadian yang lain:

1. faktor shock
ledakan bom di negara seperti amerika tentunya lebih mengejutkan dibanding hal similar di negara yg sedang mengalami konflik macam syria, misalnya.
bukan karena negara atau orang amerika lebih penting, tapi mungkin karena saya sudah terlalu biasa mendengar kisah menyedihkan di negara-negara konflik, sehingga terkesan lebih ‘wajar’ kalau ada bom di sana.
“wajar” bukan berarti benar dan acceptable loh. hanya saja itulah fakta. menyedihkan, tetapi begitulah adanya.

2. i relate beter
sebagai sesama pelari pada khususnya, dan manusia pada umumnya, jujur saya lebih bisa relate pada tragedi di boston dibanding tragedi lain di pakistan misalnya.
masyarakat di boston dan pelari-pelari marathon itu sama2 manusia modern seperti saya yang biasa dimanja berbagai fasilitas, biasa hidup aman dan enak. kami gak pernah dengar ledakan bom (amit-amit..jangan sampai)…
kalaupun ada ledakan justru paling petasan atau kembang api yang biasanya menyimbolkan satu perayaan, bukan menebar kebencian.
kesamaan latar belakang inilah yang bikin saya lebih bisa ngebayangin dan pada akhirnya bersimpati dan berbelasungkawa.
sekali lagi bukan berarti saya tidak sedih jika melihat kebiadaban di negara lain. hanya saja memang berbeda. kehidupan di boston terasa lebih dekat dengan kehidupan kita (saya), makanya saya jadi merasa lebih bisa menghubungkannya dengan diri sendiri. paling tidak saat mendengar tragedi di negara konflik saya tidak merasa… (poin no 3)

3. Takut
tentunya mau gak mau timbul pertanyaan: kalau ini terjadi di boston.. ini bisa juga terjadi di kota lain di dunia kan? di negara yang ‘damai’ seperti negara yang kita tinggali.
it happened in madrid. it happened in london. what next?
minggu ini, ada event antwerp marathon dan kebetulan saya akan ikut 10miles-nya. sempat terpikir.. apa sebaiknya saya batal ikut lari? atau justru acaranya akan dibatalkan?
tapi kejadian seperti ini gak bisa diramalkan. gak bisa juga kita jadi berhenti melakukan yang kita suka dan ngumpet di rumah terus. ya kan?
pada akhirnya kita cuma bisa berdoa dan waspada. and go on with our life..

4. media
banyak yang menuduh media yang memuat porsi berita yang berat sebelah.
semua tentang amerika atau negara maju dibesar-besarkan, di blown up sedemikian rupa sehingga mendapat reaksi berlebihan dari masyarakat.
kalau menurut saya, ya kebanyakan media memang memberitakan apa yang mau didengar, dibaca dan dilihat masyarakat pada umumnya. dan reaksi masyarakat juga terpengaruh media. timbal balik lah.
nah sekarang, media itu siapa?
marathon di boston, tanpa ada bom pun sudah diliput besar-besaran oleh media.
saat ada bom, pemberitaan juga tentunya semakin besar.
wartawan yang meliput juga makin banyak karena aksesnya lebih mudah. gak perlu jadi wartawan perang. gak perlu menantang maut pergi ke negara konflik. gak perlu jadi wartawan, malah. cukup ada di sana, sebar berita di social media. there you go, news spread faster.

lagian, emang media dikuasai amerika (dan inggris) kan?
coba aja, berapa dari kita yang follow account twitter-nya CNN, BBC, NYTimes, dsb?
sementara media dari negara lain? duh, namanya aja belum tentu saya kenal. plus faktor bahasanya, saya gak ngerti.
dan menurut saya wajarlah kalau wartawan-wartawan (amrik) itu memberitakan sesuatu yang terjadi di kampung halamannya dengan porsi yang lebih banyak dibanding berita tentang negara lain.
wajarlah kalau mereka merasa satu keluarga besar mereka yang terkena bencana sehingga dampaknya lebih personal.
kita sendiri, saat bencana tsunami terjadi pastinya juga lebih tergerak menolong saudara-saudara kita di Aceh timbang yang di Thailand kan?

well, pada intinya sih saya merasa setiap orang berhak untuk bersedih dan mengucapkan bela sungkawa.
kesedihan itu personal sifatnya sehingga gak perlu dihakimi mana yang pantas atau tidak pantas untuk ditangisi.
dan seandainya ada orang yang merasa kalau tragedi di negara lain juga harus mendapat perhatian seluas kejadian Boston, ya kenapa gak mulai dengan create awareness aja. bikinlah itu hashtag keren atau apalah. use the power of social media.
tapi tolong, lakukanlah tanpa perlu mengecilkan tragedi yang lain, dalam hal ini tragedi Boston Marathon.
saya yakin kok, masih banyak orang berhati nurani di dunia ini yang care.
banyak kok, orang yang walaupun bersedih karena kejadian di Boston tapi tetep bisa bersedih dengan kejadian di negara lain.
cuma kadang mereka (saya) gak ada penyaluran aja. sementara untuk boston, ada wacananya. ada hashtag-nya. ada action yang bisa kita ikuti.

there you go.
semoga ocehan saya bisa kasih sedikit pemahaman.
kalau gak setuju ya gak papa. boleh loh kasih komen di bawah (setuju atau gak).
dengan begitu kita bisa sama-sama melihat dua (atau lebih) sudut pandang yang berbeda.

cheers🙂

10 comments on “boston marathon: why are we not allowed to grieve?

  1. bebe'
    April 16, 2013

    Setuju mba… Gw juga kaget kok tiba2 jadi banyak yang membandingkan antara satu tragedi dengan tragedi lain. Tapi mungkin mereka kecewa aja kali yaa.. entahlah.

    • fanhar
      April 16, 2013

      kecewa sih kecewa tapi kalau jadi terkesan mengecilkan satu tragedi kayaknya kok gmn ya be.. nyesek gitu malah🙂

  2. Aini
    April 17, 2013

    gw kepikiran bgt ama poin yg #3. kepikiran ada anak2 yg jadi korban juga. dan kepikiran juga, US yg segitunya udah dianggap aman aja bisa kejadian kyk gitu… apalagi di belahan bumi lainnya yg gak lebih aman. reaksi awal pastilah takut yah… tapi gak boleh ngejalanin hidup dalam rasa takut. yup, waspada & berdoa🙂
    Semangaaatt Fan buat lomba 10milesnya😀

    • fanhar
      April 17, 2013

      Makasih Ai…
      Iya takutnya lebih berasa karena ada unsur it could happen anywhere to anyone of us ya…
      Hiks.

  3. astrid.lim
    April 17, 2013

    di era socmed seperti sekarang. anything could be wrong in people’s eyes. Mau kita bersedih, salah. mau nggak peduli, salah. mau media ngomong ini, salah. ngomong itu, salah juga. jadi lebih banyak isu tentang “apa yg dilakukan org lain” ketimbang “apa yang sebenarnya terjadi”. orang terlalu banyak mikirin orang lain. hehehe.. padahl mourning itu kan everybody’s rights. selama masih batas kewajaran sih harusnya org lain nggak usah nyinyir.

    • fanhar
      April 17, 2013

      Bener banget kata lo Tid,
      Jdi semacam pengalihan isyu yah. Berantem sendiri-sendiri bukannya sama sama bersedih dan mengecam pemboman ya..😦

  4. sondangrp
    April 17, 2013

    aku suka banget tulisanmu ini, Fan. Mewakili semua yang kurasakan pas baca berita kemarin. Semoga semua keluarga dan orang orang dekat yang ditinggalkan (di manapun juga, dengan cara seperti apapun juga) dikuatkan.

    • fanhar
      April 17, 2013

      Makasih Sondang.
      aminnnnnnn… Semoga yg beneran bertanggung jawab bisa ditemukan dan dunia bebas teror ya. Muluk banget gak sih harapannya… Tapi ya siapa tau🙂
      Dan semoga keluarga kita semua selalu aman sehat damai sentosa sejahtera yaaaa🙂

  5. dita
    April 22, 2013

    Thanks for another point of view. Sebagai orang yang berpikiran ‘rada sempit’, saya sering hampir kejebak mau gak peduli sama hal yang menurut saya overrated (padahal sama pentingnya dengan hal lain). :))

    • fanhar
      April 22, 2013

      hi Dita,
      sebenernya gak ada yg berpikiran sempit dan luas, semua sama2 berhak punya opini🙂
      yg saya rasain sih, gak ada orang yg suka dibanding-bandingin, apalagi saat lagi berduka cita dan justru terkesan disepelekan karena dianggep musibahnya gak lebih berarti dr musibah orang lain🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 16, 2013 by in thinking.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: