Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

does nature trump nuture?

pertanyaan ini sering muncul di benak saya.
apakah faktor genetis lebih berpengaruh pada perkembangan individu dibanding pola asuh?

soalnya sering banget kan, masyarakat menghakimi ortu sebagai biang keladi kalau seorang anak dicap “gak bener”.
katanya kalau anak kecanduan narkoba, itu gara-gara mereka berasal dari produk ‘broken home’.
anak laki-laki tumbuh jadi gay, dibilang karena kecilnya gak diajarin main yang lebih macho atau karena terlalu dimanjain mamanya. dan sebagainya dan sebagainya.

benarkah begitu?

tapi kok, saya suka melihat di sekeliling saya keluarga yang beranak 4: 3 kakak beradik semua sukses dan tumbuh jadi ‘anak baik-baik’, tapi ada satu yang ‘beda sendiri’. jadi kambing hitam dalam keluarga.
kok bisa?
padahal, ortunya sama. berarti pola asuhnya harusnya gak beda lah ya? lalu kenapa si anak satu itu nyeleneh sendiri?
salah ortunya kah?
ya nggak juga buktinya si ortu sukses dengan ketiga anak yang lain…

atau sebaliknya, saat hati saya buncah diliputi kebanggaan saat melihat alyssa, saya suka bengong sendiri dan bertanya pada suami.
“how did we get such a perfect girl like her?”
maaf kalau lebay, yah namanya ibu-ibu yaaa..🙂
ilmuwan bilang, ibu-ibu kalau liat anaknya itu, tubuhnya langsung memproduksi hormon apaaaa gitu yang bikin dia jadi cenderung cuma bisa liat yang bagus2 di anaknya🙂

tapi serius deh, kalau lagi bangga banget sama alyssa.. saya mostly ngerasa lucky. saya gak ngerasa alyssa begitu karena saya ibu jagoan, tapi ya mostly karena udah dari sononya. i just got lucky. Thank God!

seorang teman pernah bilang, anak-anak itu ibarat kertas putih yang siap diisi dengan tulisan-tulisan. tergantung si pengasuh, tulisan apa yang akan di torehkan pada kertas tersebut. kalau tulisan berisi kebaikan dan dilakukan dengan indah, maka hasilnya kertas tersebut akan sarat dengan kebaikan dan keindahan.. bahkan mungkin mengandung nilai seni yang luar biasa.

tapi…saya gak setuju sama pendapat ini.

buat saya, tiap anak itu beda.
kalau mau diibaratkan dengan kertas.. maka ada anak yang kertasnya kualitas 80 gram, 100 gram dsb. ada juga yang ukuran A4,A8, HVS… ada yang kertas koran… kertas minyak.. kertas seni.. ada yang polos, putih, keabuan, kecoklatan..
ada yang bertekstur dan ada yang udah bolong-bolong….

sementara itu, orang tua/pengasuh jika diibaratkan adalah pena.
ada yang seperti pensil HB, 2B, crayon warna, spidol, bolpen, rotring 0,2, rapido 0,8, permanent marker.. kapur tulis..

kalau kertasnya tipis dan ditulisi rotring 0,2 yang bermata tajam dengan tekanan yang kuat, ya kertasnya robek.
sebaliknya kalau kertasnya licin dan berwarna hitam, maka pinsil HB gak bakal bisa menulisi apa-apa di atasnya,

iya gak?

so yeah, i dont think nuture trumps nature.
tapi ya bukan berarti trus jadi ortu boleh lepas tangan and wish for the best ya.
tetep harus usaha supaya bisa mendampingi anak mencapai potensi terbaik mereka. yang mesti tetep ingat, setiap anak beda dan punya karakteristik dan jalan hidup masing-masing.

saya gak tau teori saya ini bener apa salah… tapi saya berharap, saya bisa jadi pena yang tepat sesuai dengan jenis kertas anak saya.

amin🙂

11 comments on “does nature trump nuture?

  1. mrscat
    March 26, 2013

    Aku setuju fan ama teorimu. There’s a lot of factor affecting people development. Bisa genetic, pola asuh bahkan faktor luar

    • fanhar
      March 26, 2013

      Tapi herannya knp orang kebanyakan nyalahin ortu yah nov?

      • mrscat
        May 20, 2015

        Easiest way to do….hihihi tinggal point finger. Kalo faktor luar kan unknown, org blm tentu tau

        • fanhar
          May 20, 2015

          Benerrr.. Suka kesyel akuh! Hahaha

  2. dhira rahman
    March 26, 2013

    Aku juga setuju.
    Aku termasuk ortu yg kagum gimana gitu sama anak sendiri, menurut aku dari sononya dia udah bagus.. Menurut aku, pola asuh memegang peranan sangat besar dalam perkembangan kejiwaan anak

    • fanhar
      March 26, 2013

      Iya dhira, alhamdulillah ya🙂

  3. Hildha
    March 26, 2013

    Fan, contoh lo soal kertas dan pensil oke banget. Perlu gw inget inget terus nih.🙂
    Thank you for sharing

    • fanhar
      March 26, 2013

      Hahaha, itu yg awalnya nyamain anak sebagai kertas kan temen gue hil.. Gue mah cuma pelintir dikit teorinya🙂

  4. greissani
    March 27, 2013

    sukaa sama tulisan ini pas banget sama pertanyaan yg ada dikepalaku hiihii

  5. WiwiT
    April 3, 2013

    tante eropah, tumben tulisannya “waras” #ups (tolong jangan dilempar klompen)😀
    suerrrr deeeh aku kagum sama tulisannyaaaa.. aku terharruuu.. *lap air mata*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 25, 2013 by in motherhood.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: