Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Tentang Menabung

Here’s the million dollar question: Can one save too much money? Entah kenapa beberapa hari ini saya punya pikiran seperti ini. Bukannya saya kebanyakan duit ya, tapi saya bertanya-tanya aja, kenapa sih saya ngotot bener nabung. Belum lagi jutaan tips menabung dan berinvestasi yang bertebaran di mana-mana. Bikin saya semakin merasa ada yang kurang kalau nggak ikut menyisihkan uang saya. Tapi sekali lagi, untuk apa semua itu? Atau kalau meminjam istilahnya Ligwina, tujuan lo apa? Nah akhir-akhir ini saya rada lupa tujuan saya. .

Selama ini, saya nabung dengan menerapkan target. Misal sekarang saya punya 1, akhir tahun ini udah harus jadi 1,5. Setiap abis gajian pun saya menyisihkan sebagian langsung ke tabungan. Kalau abis dapet duit extra macem bonus, gaji ke 13 atau uang liburan juga sebagian besar saya masukin tabungan. Ada sih kalanya saya ‘lupa’, tapi ya abis itu ngerasa bersalah banget.. Hihi Saya juga gak gampang buat beli barang mahal. Sebelum beli barang yang rada pricey, saya pasti mikirnya lamaaaaa banget. Itupun paling sekitaran gadget doang. Dan kalaupun saya memutuskan untuk jadi beli, biasanya saya beli varian termurahnya. Misal, waktu beli ipad atau iphone, saya beli yg 16GB doang, bukan yang 64GB. Contoh lain adalah saat liburan. Kita selalu booking hotel standar, makan di resto standar, gak pernah jor joran dan ‘abis-abisan’. We stick to the (tight) budget. Sayang duitnya, mending ditabung atau diinvestasiin. Begitu pikiran saya selalu. Tapi sekarang, saya bingung. Ngapain sih nabung mulu? For rainy days? Berapa banyak sih yang harus ada dalam tabungan (pribadi) saya? Kebanyakan websites yang saya baca menyarankan perempuan(istri) untuk punya account tabungan pribadi. Tapi berapa besar idealnya? Kalau emergency fund keluarga kan 3-6 bulan pengeluaran tuh, nah kalau istri doang? Ada yang tau? Balik lagi ke pertanyaan awal, kenapa sih harus nabung melulu? When can you say you have saved enough? Can i spend more on, say designer bags or the newest iMac or some Blahniks heels or luxury vacation instead keep thinking ‘ sayang ah, duitnya mending ditabung aja..’? Hehehe Pertanyaan ini semakin menguat saat kemaren saya mo beli kacamata gara-gara kacamata saya hilang. Yang jadi pertanyaan adalah: – beli apa nggak, siapa tahu besok yang lama ketemu (masih ingat cerita sunnies saya yang ilang waktu itu?) – kalau beli, beli yg murahan atau yang ‘bagusan’? Setelah muter-muter di mal sesorean, akhirnya gak jadi beli juga karena masih bimbang. Trus, saya malah whatsappan sama mama, nanya di mana kacamata saya (anak kurang ajar, ibunya tinggal ribuan kilometer kok masih diminta nyariin kacamata.. Hueheheue) Eh, terus si mamah malah bilang begini:

20120902-003205.jpg Ahahaha, Mungkin dalam hatinya mamah mikir, ih kasian banget sih anak gue kayak orang susah, orang kacamatanya ilang aja kok lama bener mikirnya buat beli lagi… Hihi So again, pertanyaannya: when can you say you have enough? How much should you save and invest until you actually feel secure? Dan satu hal lagi, kalaupun ‘rainy days’ datang menghampiri (knocking on woods), i know i have an umbrella. It may be not the biggest, strongest, most expensive one, but i have it. And when the umbrella is no longer available,deep down i believe i can face the rain anyhow. So, i will get wet, but i will fight. Hell, I might even dance in it. Ngerti kan maksud saya?🙂 So, is the umbrella i have now ‘enough’? Jujur aja saya bener-bener penasaran. Saya gak pengen jadi orang serakah yang ngerasa nggak pernah cukup, tapi saya juga curiga pemikiran saya ini jangan-jangan sekedar cari-cari alasan biar bisa belanja lebih banyak. Huehehehe. Hmm, let me know what you think ya temans. Kalau ada yang mau share tentang silahkan lo..

16 comments on “Tentang Menabung

  1. Junior Planner
    September 2, 2012

    Hai Bu, apa kabar? Mo urun rembug dikit nih gara-gara tadi dicolek di twitter, hehehe. Topik yang menarik dan sering jadi pertanyaan banyak orang termasuk saya sendiri beberapa tahun lalu. Saya juga sempat menulis topik sejenis beberapa bulan lalu di http://www.catatankeluargamuda.com/2012/05/tips-dalam-personal-budgeting-agar.html. Mungkin belum sepenuhnya menjawab, tapi at least ada tersirat bahwa ‘bersenang-senang’ itu adalah bagian dari planning, hehehe.

    Saya pribadi mengelompokkan penggunaan income dalam 3 bagian besar kebutuhan yang berjenjang berdasarkan tingkat urgensi. Tingkat 1 adalah semua kebutuhan pokok/rutin rumah tangga, termasuk biaya untuk anak, cicilan hutang, kewajiban keagamaan dan biaya-biaya lainnya. Jika tingkat pertama telah terpenuhi, baru bisa masuk ke tingkat 2 yang isinya antara lain adalah tabungan, investasi dan asuransi. Setelah kebutuhan level 2 terpenuhi, baru masuk ke level 3, yang gampangnya bisa disebut sebagai “uang bebas” yang bisa digunakan untuk apapun, termasuk untuk kebutuhan “senang-senang”. Pertanyaannya kembali lagi, berapa tingkat ideal di tingkat 2? Nah, sesuai dengan kata Mbak Wina, balik lagi ke “tujuan”. Level idealnya adalah jika semua kebutuhan ‘cicilan’ investasi untuk semua tujuan di masa depan telah dipenuhi dengan baik sesuai dengan hitungan.

    Saya langsung sharing aja kali yah. Di keluarga saya, kebutuhan untuk tingkat 1 memiliki porsi sekitar 70% (55% kebutuhan rutin, 15% cicilan hutang) dari total income rutin bulanan. Sekitar 25% dialokasikan untuk investasi, dan 5% merupakan free cash flow yang ditujukan untuk belanja-belanja dll (kalo kepake ya udah, kalo ngga kepake bisa di carry forward ke bulan berikutnya or digunain untuk kebutuhan lainnya). Income non rutin sebagian kecil dialokasikan untuk biaya asuransi (jiwa dan kendaraan), dan sisanya lagi untuk: belanja-belanja, hehehe. Nah pertanyaannya, porsi 25% investasi itu dari mana? Itu isinya meliputi investasi dana pendidikan, dana pensiun dan juga dana untuk orangtua yang dihitung dari perkiraan kebutuhan di masa depan. So setelah dihitung, ternyata kebutuhannya cuma segitu, dan sejumlah itulah yang saya investasikan tiap bulannya. Ngga pernah lebih, buat apa juga kan? Mending dipake buat begaul, hihihi… Segala sesuatu kalo berlebihan juga ngga baek, termasuk si investasi ini. Ngga pernah memanjakan diri juga sama bahayanya dengan ngga pernah olahraga #mulai ngarang#

    Intinya, buat saya financial planning itu membantu kita memetakan keuangan keluarga dan pengalokasiannya. Ujungnya, itu berguna untuk menentukan gaya hidup yang mau kita pilih. Dengan mengetahui bahwa semua kebutuhan primer, hutang dan investasi udah tercover, maka ngga ada salahnya memanjakan diri dengan hal-hal yang lebih mahal. Ngapain juga punya lebihan duit tapi ngga bisa dinikmati sekarang?! Tapi itu balik lagi ke pilihan gaya hidup. Ada yang memang memilih untuk berhemat demi masa depan (mungkin kebutuhan pensiunnya banyak banget), namun ada juga yang memilih untuk menikmati hidup selama semua kebutuhan keluarga telah tercukupi.

    Eh kok jadi serius gini yah kesannya? Maaf yah🙂

    Mengenai kacamata, kalau itu adalah kebutuhan yang utama untuk kegiatan sehari-hari, bisa saja dibeli dengan dana darurat dulu. Oiya, mengenai kebutuhan dana darurat untuk istri (doang), ini maksudnya karena ada pemisahan pengaturan keuangan dengan suami kah? Karena kebutuhan ini seharusnya sudah menjadi bagian dari dana darurat keluarga.

    Semoga bermanfaat ya. Dan maaf juga kalo ada yang belum sempat kejawab🙂

    • fanhar
      September 2, 2012

      Tofannnn.. makasih.. ah kamu baik sekali deh selalu menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang suka dodol. haha!

      iya, gue dan suami sama-sama punya tabungan/investasi pribadi (selain joint account yg dipake buat operasional dan semua kebutuhan keluarga). alesannya banyak, salah satunya nurutin nasehat websites2 keuangan bule.. haha. entah kenapa di indo jarang dibahas, mungkin masih dianggap tabu kalau suami istri pisah rekening?

      anyhow, kalau di belgia penting soalnya, if something happened to yr spouse (amit2 jabang bayi), rekening bersama dan rekening pribadi pasangan akan dibekuin sampai ada kejelasan soal pajak, warisan, dsb. nah kalau sampe gak py tabungan pribadi, gawat kan. mo makan apa selama nunggu tabungan bersama dan si pasangan cair. selain itu buat gue seru aja kalau gue py tabungan pribadi, suka diskusi ama jo ttg saham dan emas dan ‘saingan’ siapa yg paling oke berinvestasi.. haha (dan gue biasanya kalah..makanya gue mesti sering2 konsultasi ama lo nih hehe)

      oiya, gue rada kehilangan motivasi nabung gara2 lo juga (maen nyalah2in aja).. haha
      dulu ngotot nabung krn pengen beli properti di indo, tapi sekarang jadi ragu2 nabungnya pun ikut males.. :))

      btw kayaknya iya nih gue perlu bikin tabungan belanja atau kalau kata laki gue ‘a-must-spend-account’, pokoknya khusus buat hura2 dan mesti diabisin.. haha

      oya, kacamatanya ketemu! yayyy..
      jadi gak usah ngoprek2 tabungan😀

      sekali lagi thanks ya Pak!!!

  2. Junior Planner
    September 3, 2012

    Ooo, gitu yah aturannya? Nambah ilmu nih gw, hehehe. Tapi yg ttg dana darurat, maksudnya bukan berarti hrs joint account lho. Tetep pake account masing-masing, tp besarannya ngikutin itungan secara keluarga. Misalnya kebutuhan DD adlh 6x biaya bulanan, maka suami dan istri nyiapin 6x biaya bulanan sesuai porsi masing-masing. Kalo untuk investasi juga bisa dipisah, sesuai tujuannya aja. Gw dan crey jg gitu kok, masing2 punya rekening investasi juga🙂

    Btw kenapa jd ga semangat lagi gara2 saran gw? Hehehe… Justru harus makin semangat nambahin duitnya atau nyari2 instrumen lain yg bagus dan sesuai. Boleh nih kita discuss kapan2 ttg ini, lagi belajar juga soalnya🙂

    • fanhar
      September 3, 2012

      iya jadi gak semangat karena jiper gak nambah2 dan males ngurusin administrasinya kl jual beli tanah..
      jauh soalnya..
      akhirnya RD aja deh dan emas paling. lebih gampang🙂
      sip2 tambah seru nih kalau bisa diskusi lagi kapan🙂. thanks ya pak!

  3. moisitha
    September 3, 2012

    Kl ingat alm bapakku, menabung itu ngga ada batasannya. Terus menabung, terus berhemat, no korupsi😀 . Hasilnya memang sangat keliatan. Begitu bapakku wafat (sblm pensiun), keluarga yg ditinggal ngga kekurangan apapun. Pun sampai saat ini, hidup ibuku baik2 aja scr finansial. Malah aku yg suka pinjam uang ke ibuku… qeqeqe… *anak tak tau diri*😀

    • fanhar
      September 3, 2012

      wah, seru yah si Oom, jarang2 tuh sekarang ada yang begitu..
      Hmm.. iya sih, nabung pasti tetep nabung, tapi kayaknya gue gak mau sengotot dulu. biar jo aja yang ngotot.. hahaha

      • moisitha
        September 7, 2012

        Emang harus ada salah satu yang ngotot, Fan… Jangan dua2nya… hihi…

        • fanhar
          September 7, 2012

          hihihi.. iya gue juga meraasa rugi kalau ngotot. hahha

  4. Novi
    September 5, 2012

    tujuanku menabung biar gak nyusahin anak di masa depan, bahkan kalo bisa membahagiakan anak semaksimal mungkin (pas anak nikah bisa kasih hadiah, pas aku pensiun aku ga minta dari anak bahkan bisa nyediain rumah dsb) . jadi gak bakalan ada habisnya nabung karena aku pengen bisa ngasih sebanyak-banyaknya buat anak. Maklumlah, aku ngelihat ke ortuku dan i got nothing from them, dan aku gak pengen anakku seperti akuuuhhh, yg ga ada warisan hihihi….matre banget ya aku. bodo ah, emang begitu kok.

    • fanhar
      September 7, 2012

      novi, toss!
      gue juga targetnya pasti: dana pendidikan, mobil, traveling after she finished school dan at least sebidang tanah. huaa banyak.
      tapi tetep ah mo spend more for myself.. hihi

  5. otty
    September 7, 2012

    Eh Fan, justru temen2 gue di sini pada ga punya joint account lho. Bonyok gue juga ga punya joint account. Jadi kayaknya ga bener juga kalo lo bilang “dianggap tabu suami istri pisah rekening”. Kalo gue sih alasannya simple (seperti yang waktu itu gue bilang ke elo): males ah ngurus joint account, wong sekarang pake rekening sendiri2 baik2 aja kok hehehe…

    Anyway, tentang rainy days. Gue justru punya pemikiran “selama kita bisa, ya harus seneng2 dong” (tentunya setelah kewajiban dipenuhi – makan, nabung seperlunya, dsb). Kenapa? Karena kalo ternyata nanti si rainy days itu datang (semoga tidak) gue udah pernah tau rasanya seneng. Kalo gue pelit terus dan nabung terus, dan ternyata rainy days tetep dateng, yang ada gue manyun trus mikir “ih dulu waktu punya uang kok ga pernah ngerasain ini itu”. Cetek sekali ya alasan gue😀 Tapi semogaaa di hidup ini kita selalu diberikan yang terbaik, amin.

    Oh tapi aku tetep belum tega beli HermeZ hahaha… Tak ada tabungan buat itu!

  6. fanhar
    September 7, 2012

    hah, jadi bener kan pada gak punya joint account berarti masih tabu? gitu kan maksud lo Ty? gue jadi bingung..

    anywayyyyy… now i remember why i love you so much.. hhihihi.
    bener juga nih pikiran ‘mumpung bisa seneng2 kenapa enggak’ hahaha
    never looked it that way.
    padahal beberapa bulan lalu pas kolega gue meninggal muda gitu gue juga ngobrol ama jo dan sampai pada kesimpulan: we have to enjoy life when we can, dan saat itu gue janji mo belanja lebih banyak.. ahahahaha

    *cium otty*

  7. slesta
    September 11, 2012

    fan, gue sih setuju banget ama tofan. menabung itu penting, tapi dengan tujuan. dan gak perlu berlebihan karena apapun yang berlebihan itu gak bagus.

    walopun gue selalu bahas ttg needs vs. wants. ttg nyisihin duit, dll, bukan berarti hidup gue jadi kayak orang susah yang bawaannya nabuungg mulu. itu juga ga bagus, gak nikmatin idup namanya. buat apa kita capek2 kerja kalo ga nikmatin hidup dr hasil kerja keras kita? kapan lagi? kalo udah tua, udah gak kuat lagi buat nikmatin. even my parents said it.

    jadi intinya sih, kita menabung dengan tujuan ABC, dimana tujuan2 itu adalah untuk long term. misalnya A untuk dana pendidikan, B untuk dana pensiun, C untuk dana darurat. kalo semua pos yang penting2 udah terpenuhi, dan masih ada sisa untuk kita spend dan tetap hidup comfortable tanpa gali lubang tutup lobang.. ga ada salahnya untuk menikmati sebagian yang ada.

    dulu waktu gue masih kuliah, duit tabungan gue belom banyak, asset belom punya, bersusah payah gue nabung. beli ini itu maunya yang varian termurah, karena gak ngerasa pantes untuk beli versi yang mahal dan bagus. tapi ujung2nya yang murmer itu cepet rusak, akibatnya mesti beli lagi yang baru dalam waktu dekat. atau gak karena murmer jadi belinya banyak, numpuk, gak kepake jadinya malah waste. semakin kesini gue makin belajar, quality is better than quantity. jadi kalo beli apa2.. gapapa yang mahal asal awet. ada harga ada barang. kalo emang mampu beli yang mahal, kenapa harus nyusahin diri beli yang murah tapi cepet rusak? kalo udah deserve it, why not? go for it!

    menabung is a part of life, but first of all, you must enjoy it too! iihh jadi panjang.. macam ngeblog di blog orang gini gue..

    • fanhar
      September 11, 2012

      ah iya bener juga ya, ntar kalau udah tua percuma juga mo pake beha la senza apa bh pasar inpres hahaha (perumpaan yang aneh)..

      gue sekarang juga udah mutusin buat punya a-must-spend-account shin. jadi tiap bulan gue sisihin sedikit. nah gue belon tau dana itu mo dibeliin apa, yang jelas untuk bersenang senang.. kita liat aja nanti. haha

      • moisitha
        September 21, 2012

        Kayaknya nyokap banget. A-must-spend-account itu adanya dari nyokap, dari gaji nyokap. Buat blio belanja tas2, baju2, perawatan, etc, plus buat tambahan jajan anak2nya *siul-siul, senang…*

        Ih, nyinggung tas lagi…😀

        • fanhar
          September 21, 2012

          selama ini duit jajan gue banyakan gue tabung haha. makanya mesti bikin must spend account deh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 2, 2012 by in thinking.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: