Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Tiger Mama

Pengakuan, saya belum pernah baca  Amy Chua’s Battle Hymn of the Tiger Mother.
Palingan saya cuma baca excerpt dan komentar-komentar orang tentang buku yang mengguncang dunia parenting itu (halah, berasa Fenny Rose banget sih ngomongnya..

Jujur aja, saya sih nggak gitu tertarik bacanya, dan pandangan saya dalam mengasuh Alyssa beda banget sama cara si Amy ke anak-anaknya. Intinya, i do not want to be a tiger mother. Not at all.

Sampai..

Suatu hari Alyssa pulang sekolah bawa ulangan matematiknya. Bagus hasilnya, tapi ada beberapa yang salah.
Being a perfectionist, dia nggak puas dan minta saya mengajari dia di rumah.
Ya udah, saya ajarin..
Eh tapi, dasar si neng, dia yang minta dijelasin, tapi dia juga yang gak mau dengerin.. *eyesrolling*
Saya sih udah apal dengan ‘kekeraskepalaan’ si neng. Dia emang gak suka dibilangin dan lebih suka nyoba nyoba sendiri, trial-error, sampai ntar dia frustasi sendiri karena gak dapet-dapet jawabannya.. hihi..
Tapi yang ada saya jadi gemes dong liatnya, tadi minta diajarin giliran mamanya ngajarin gak mau dengerin..
akhirnya… berantem deh!! hahahaha

Sebenernya, saat merasa saya udah mulai esmosi, saya bilang sama si neng, belajarnya ntar aja (maksudnya biar kita berdua sama-sama bisa ‘ngadem’.. nenangin diri dulu).
Apalagi, saya jadi keinget sama Amy, dan alarm dalam kepala saya berdenging kencang ‘Stop it.. Stop it now.. Dont turn into a tiger Mom!!!’

Eh, si neng maksa.Ya udah deh, kejadian, 2 perempuan “aliran keras” ini pun bentrok.. huhuhuhu.. i felt like the worst mom on earth.

Saya membentak, Alyssa menangis.

Mungkin karena Al udah nervous duluan, dia udah gak bisa mikir lagi. Tapiii.. dia tetep gak mau dengerin kata emaknya. Atau kalau gak, dia bilang mamanya salah karena ‘kata ibu guru nggak gitu.. huhuhuhu’
Dengan jiwa yang terguncang, Alyssa nangis-nangis ‘aku gak ngerti mama….’.

Air mata semakin bercucuran diiringi sesegukan si neng yang tampangnya udah memelas banget..
Sebenernya saya pengin menghentikan acara belajar mengajar yang lebih mirip dengan penyiksaan anak itu.
Satu tanda tanya besar berkedip-kedip di kepala saya.
Am i pushing her too hard???

Tapi saya pikir tanggunglah buat berhenti. lagian kan dia yang memulai .. dia juga yang harus mengakhiri.. (kok jadi dangdut?)
Saya nggak tau apa yang membuat saya tetep bergeming, dan terus mendorong Alyssa buat terus usaha.
Saya terus bilang ke dia, “Ayo kamu bisa, just concentrate!”
Dalam hati saya yakin kok kalau dia bisa. Dan saya akan terus menunggui dia, sampai dia bisa memecahkan semua soal di depannya.

Tentu ada perang batin yang saya rasakan saat itu.
Tentu ada rasa salah, takut, nyesel, dan sebagainya.
Tapi semua itu kalah dengan besarnya harapan dan keyakinan saya pada Alyssa.
Dan untungnya, insting saya benar.

Gak lama kemudian, si neng berhasil menyelesaikan soal-soal di depannnya.
Saat saya bilang kalau dia benar semua, kita langsung berpelukan kegirangan!
Alyssa keliatan hepi, bangga sama dirinya sendiri,d an paling penting… kepercayaan dirinya pulih.
Sekarang bukan cuma saya yang tau kalau dia bisa, tapi dia sendiri juga tau, kalau dia BISA!
Segala “pertengkaran” kita pun terlupakan begitu saja.

Lagi, pikiran saya balik ke Mbak Amy.
Dia berteori, kalau anak baru bisa enjoy melakukan sesuatu saat dia sudah menguasainya. Dan untuk menguasainya, butuh latihan dan kerja keras yang luar biasa. Dan ortulah, yang harus mendorong dan mensupport si anak sampai dia  bener-bener menguasai materi tersebut (walaupun dengan cara yang mungkin “kurang menyenangkan”
Saat itu saya menyepelekan teori tersebut, tapi sekarang, i finally get it. Tetep gak seratus persen setuju sih tapi saya mulai ‘memahami’ si mbak Amy ini…

Afterall kayak kata theurbanmama; there’s  always a different story in every parenting style. Ya kan?

🙂

2 comments on “Tiger Mama

  1. astrid
    December 27, 2011

    waaah adegannya mirip banget sama salah satu bab di buku Mba AMy yang dia berantem sama si Lulu pas latian piano sambil nangis2 huahahaha…yahh mungkin sedikit tiger perlu fan, asal jangan kebanyakan. cheetah mum, kali ya? lebih jinak dikit =p

  2. Fanny
    December 27, 2011

    astrid: iyaaa gue kepikiran langsung dengan adegan itu. padahal kan dulu kita sama2 rada2 sebel yah ama cara si Mbak Amy.. hahaha..hooh deh, cheetah mom aja. it sounds a bit sexier too.. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 23, 2011 by in motherhood.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: