Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Labelling

Beberapa hari yang lalu saya ngeliat undangan ultah temennya Neng Al. Undangannya sih standar yah, Cuma kertas folio dengan print-printan nama, tgl dan tempat pesta. Trus ada juga foto-foto si anak yg bersangkutan dr bayi sampai umur sekarang.
Saat itu juga saya ngebatin, haduh ini anak kok err.. – maaf..duh jadi gak enak nulisnya – cuma *sekalilagimaaf* saya spontan ngebatin kalau anak ini kok.. err.. kurang cakep yah. (asli saya ngerasa salah langsung nulisnya, but anyway, ini tetep perlu ditulis karena melandasi pemikiran-pemikiran saya selanjutnya). Dan oya, biar anak ini emang  ‘gak cakep’ tapi dia baik dan pinteeeeer banget (puji dikit deh biar kesannya gak menghina banget .. hihi) 
Nah, waktu itu saya juga mikir, ih ini anak gak cakep kok fotonya dipajang-pajang sih.. hihi
Trus saya sadar, kalau yang namanya ortu (apalagi seorang ibu)-, mo anak cantik, jelek, pinter atau guobloook, biasanya akan tetep menganggep anaknya cakep, jenius, baik, berbudi, dsb.
Pokoknya yang keliatan yang bagus-bagusnya ajah.
Kalau menurut sebuah penelitian yang pernah saya baca sih, saat memandang bayinya, tubuh seorang ibu akan memproduksi hormon tertentu –lupa namanya- yang menyebabkan si ibu gak bisa berpikir rasional lagi. Sehingga, ya itu tadi, sisi negative si anak bakal kabur. Gak terdeteksi.
Eh itu kata science yah. Kalau saya bilang mah, itu mother’s instinct dan CINTA.
Tsaaah, sedap…!!!
Memang, nggak semua ibu/ortu begitu kali yah.
Selalu ada pengecualian di dunia ini.
Ada juga yang justru sering ‘mengkritik anaknya’
Bilang jelek, bodoh atau payah.
Apakah itu artinya si ortu gak sayang anak?
Jawabnya mungkin iya mungkin tidak (ingat, selalu ada pengecualian!)
Sebagian besar sih mungkin hanya mengekspresikan kekhawatiran dan kasih sayangnya dg cara yg ‘berbeda’; atau mungkin, memang cuma cara itu yg si ortu tahu: mengkritik.
Misal, saat dia menjuluki anaknya dengan ‘si bodoh’, sebenarnya adalah ungkapan kekhawatiran si ortu dengan sikap anaknya yang malas belajar. Dia takut si anak akan ‘kalah’ bersaing dan kurang pintar. Bisa jadi, justru ada harapan yang terkandung di dalam ‘cacian’ itu.
Ingin memacu sang anak agar lebih giat lagi mencari ilmu.
But hey,
Bukan berarti saya setuju yah dengan cara di atas.
Saya justru sebisa mungkin berusaha menghindari memberi label negatif bahkan positif buat anak.
Hah positive juga? Loh kenapa? Kalau label negative kan jelas gak baik karena bisa berdampak buruk pada self esteem anak. Tapi masa gak boleh juga kasih label positif?
Ntar saya ceritaiin alasannya, tapi sekarang saya mo berbagi dulu apa yg pernah saya baca di forum theurbanmama.
Saya lupa persisnya di thread apa dan siapa yang nulis, tapi yang jelas saya berterima kasih sama si penulis dan ngerasa bersyukur bisa baca tulisan itu.
Intinya, ucapan ortu itu adalah doa. Jadi kalau ada anak buandeeel banget (atau penakut atau pemalu atau bodoh), janganlah sampai terucap kata-kata yang berkonotasi negative. Misal “ah dasar emang payah kamu, dek!”
Atau “ah memang pemalu anak ini..”
Apalagi kalau sampai didengar oleh anak yang bersangkutan..
Gini cerita lengkapnya (seinget saya):
Jadi alkisah, jaman dulu di Arab ada seorang ibu yang punya anak buandeeeeeel banget. Pokoknya sedikit-sedikit anak itu bikin onar dan bikin susah ortunya. Tapi, namanya juga ibu yah, tetep sayang sama anaknya. Dan setiap si anak berulah, dia cuma mbatin sambil bilang “Oalah nak, mog-moga kamu besarnya jadi Imam mesjid X “(lupa detailnya).
Dan bener deh.. saat dewasa, si kelakuan si anak berubah 180 derajat, dari si badung jadi imam mesjid besar.
Hebat yah?
Sekali lagi, omongan ibu itu doa…
Coba bayangin sendainya si ibu saat itu menghardik anak dengan kata-kata’ dasar anak bodoh kamu kerjaannya bikin susah orang tua !’.
Duar, saya rasa nasib si anak bakal beda kali.. 
Loh kalau begitu seharusnya boleh dong kasih label positif, kok tadi saya bilang gak boleh ?
Bentar, saya jelasin dulu. Saya mah gak bilang gak boleh, lagian siapa juga saya ngelarang-ngelarang orang ?🙂
Saya cuma balik lagi sama pegangan saya yang super klise : segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik.
Jujur aja saya selalu ‘tergoda’ buat memuji-muji Neng Al.
Iya lah, namanya anake sendiri, udah cakep, pinter, manis, baik hati, penurut.. ehhhh… kebablasan deh hihi…
Tuh kan, emang bawaan emak-emak, maunya ngebanggain anak sendiri aja. Di mana pun, kapanpun.
Tapi ya itu tadi, saya mesti hati-hati juga agar tidak melabel Alyssa secara berlebihan. Kenapa?
  1. karena segala sesatu yang berlebihan tidak baik *iyaaaaa udah tau*
  1. biar al gak sombong.
Saking seringnya saya muji di cantik, sekarang dia udah ngerasa banget cantik.. hihi.. eh tapi emang bener sih *tetep*
  1. biar gak beban
menurut saya, pujian yang berlebih bisa jadi beban. Karena sering, dalam suatu pujian terkandung sebuah harapan. And somehow, you will  try to live up the expectation yang tersamar dalam pujian tersebut.
Kalau takaran pujiannya pas, harapan yang terkandung itu bisa jadi pengingat tanggung jawab si anak untuk ortunya dan dirinya sendiri.. tapi kalau berlebihan kasihan juga si anak. berat euy idupnya🙂
  1. biar gak jadi gila pujian dan berusaha menyenangkan hidup orang lain
udah jadi instict ortu untuk selalu melindungi anak, memastikan hidupnya nyaman dan hepi, gak ada yang menyakiti. Selalu ingin menyenangkan hati si anak salah satunya dengan memuji. Bahkan mungkin dengan pujian yang mengada-ada, misalnya bilang si anak genius matematika padahal mah biasa-biasa aja. Saat si anak dewasa, dia menyadari kalau ternyata dia nggak canggih-canggih amat. Self esteemnya justru kebanting. Dia nggak siap dikritik atau menerima kenyataan kalau dirinya gak bisa jadi ahli fisika. Padahal it’s ok.. you don’t have to be great in everything kan? Dan oh ya, karena dia biasa dipuji setiap melakukan segala sesuatu, saat dia hidup di masyarakat yang nggak semurah itu kasih pujian, dia merasa ada yang kurang. He has not done enough. He has to please everybody until he gets the rewards. Dipuji. Dan sebaliknya, saat dia dikritik, dia langsung goyah.. karena gak terbiasa menghadapi komentar negatif.
Look, I’m not saying you cant praise your kids.
You should. Definitely.
Tapi jangan berlebihan sampai ngebebanin si anak atau bikin si anak delusional.
It is our job to prepare our kids to be ready for the wild world out there.
Mereka harus punya kepercayaan diri yang kuat, tough dan skill yang tangguh.
Tapi mereka juga harus paham kekurangan mereka, dan menyadari kalau it’s OK untuk memiliki kekurangan-kekurangan tersebut. It doesnt make them less special, bahkan kita bisa tunjukan gimana caranya ngubah kekurangan tersebut jadi kekuatan. Bersama-sama!
Mereka juga harus belajar untuk menerima kritik, memilih mana yang harus didengarkan dan dicuekin.
And above all, they should know that even with all their imperfections, they are loved unconditionally. BY YOU!

4 comments on “Labelling

  1. Anonymous
    October 8, 2011

    Setuju bangetMeskipun saya bukan seorang Ibu, tapi saya sependapat dengan pemikiran Fany

  2. Fanny
    October 9, 2011

    hi there. thank God ada yg setuju! hahahamakasih ya

  3. Cik Ve
    October 11, 2011

    saya masih single mba, boro2 py anak…jauuhhh.sy tertarik sama cerita anak yang 'kurang cakep' itu mba. Apa yg terjadi di hari ultahnya? naas kah atau happy ending? hehehe…!tapi sebagai anak saya sangat-sangat setuju dengan pemikiran mba fanny.senang berkujung ke rumah ini. Salam buat Al..!

  4. fanny
    October 11, 2011

    hi Cik Ve.. makasih yah..pestanya belom, baru minggu depan.. ahahatapi moga2 happy ending deh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 7, 2011 by in motherhood.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: