Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Flawless

* A reminder to my self*

Dari dulu saya sebel banget sama noda-noda hitam di wajah saya. Kalau orang Belanda/Jawa bilangnya ‘sproeten’.
Kayaknya emang udah keturunan, karena mbah uti, nyokap, bulik-bulik, oom-oom saya semuanya juga punya ‘masalah’ yang sama. Bintik-bintik menyebalkan di wajah.
Ditambah lagi, dari kecil saya sering panas-panasan dan suka ‘lupa’ pakai tabir surya.
Saat mulai lebih aware dengan segala jenis skin care dan make up, saya makin rajin melindungi wajah saya dengan sun block plus krim-krim yang katanya bisa membantu menghilangkan -atau at least menyamarkan- noda di wajah.
Nothing worked.
Justru kayaknya noda di wajah saya tambah banyak…
Dan saya tambah berkeluh kesah…
Muka sehalus porselen ala bintang-bintang jepang atau korea, semakin jauh dari gapaian..

Suatu hari, saya nekat facial di Belgia.
Kenapa nekat? Soalnya di sini tuh facial mihil surihil bangets. Dan hasilnya pasti nggak seenak facial atau perawatan-perawatan ala Indonesia.
Tapi waktu itu Jo lagi ultah, dan saya ngehadiahin dia dengan sehari di spa plus pijet. Jadi sekalian, saya menghadiahi diri saya dengan facial treatment. (Lah, Jo yang ultah kenapa juga saya ikut-ikutan menghadiahi diri? hihi)
Pas lagi di pijet muka, saya curhat sama si mbak facialist (ih maksa, maksudnya mbak-mbak yg ngefacial gitu loh.. soalnya kalau kita sebut sebagai mbak facialer, terdengar rada-rada berbau iler hihi)
Pikir saya, mumpung saya bisa berkeluh kesah soal muka saya.. soalnya kapan lagi, kan orang itu emang lagi dibayar untuk merawat wajah saya, jadi dia harus mau dong dengerin segala permasalahan kulit yang saya punya. Syukur-syukur bisa kasih solusi. *semena-mena*
Tapi alih-alih memahami kebetean saya, dia malah bengong terkejut terus komentar
‘Whaaattt? Kamu gak suka sama freckless kamuhhh??? Kumaha atuh… Itu mahh cakeuppppp.. jadi bikikn tambah maniss. Benerrrr.. Percaya dehh!’ *nggak embaknya bukan sunda dan gak seheboh itu, itu mah sbisa-bisanya saya ajah!*
Tapi intinya, si mbak bingung kenapa saya masalahin banget ketidakmulusan muka saya, padahal menurut dia they’re actually cute.
Saat itu juga seperti ada tombol yang dipencet di kepala saya. Suddenly, i dont hate those freckless as much as i did before. Malahan, saya jadi inget, kalau Jo, dan beberapa anggota keluarganya juga pernah bingung waktu saya ngeluh soal freckless saya. Kayak gak ngerti, di mana sebetulnya permasalahan yang saya ributin banget itu.

Indeed, beauty is in the eye of the beholder.
The funny thing is, why do i need someone to tell me that i look good, before i actually feel good about myself?

Setelah dipikir-pikir, facial session yang tadinya saya sesali itu (karena mahal dan gak seenak di Indo), ternyata gak sia-sia juga. I made peace with my flaws.
Haha, ternyata si mbak nggak cuma ber’fungsi’ sebagai beauty therapist tapi juga menerapi mental saya!
That’s worth every penny!

*Saya tetep akan merawat wajah baik-baik dan pakai tabir surya sebagai perlindungan tapi saya gak akan ribut-ribut soal freckless lagi. That’s a promise*

2 comments on “Flawless

  1. caramelization
    September 14, 2011

    Aku tak melihat freckles samsek ah. Mamanya neng Al cantik koookkk *pelukcium*

  2. Fanny
    September 16, 2011

    @meta oh cantik sih emang selaluuuu.. huahahauah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 14, 2011 by in thinking.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: