Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Cita-Cita

Inget gak cita-cita kamu masih kecil?
Saya inget banget!
Sama seperti puluhan juta anak Indonesia di tahun 80-an, cita-cita saya standar banget: pengen jadi dokter!
Mhuahaha!
Eh, sebenernya sih cita-cita saya ganti-ganti terus, dari pengin jadi dokter, insinyur, pengacara sampai presiden. Tapi ya itu, yang paling keukeuh dipegang, ya yang jadi dokter itu. Dokter Anak tepatnya.

Menjelang SMA, pilihan saya jadi dokter mulai goyah. Waktu itu, keinginan jadi arsitek mulai membayangi. Jadinya 50/50, antara dokter dan arsitek. Eh, gak lama kemudian, pengen belajar tehnik industri dan ekonomi juga. Ga jelas banget deh! Akhirnya saya masuk jurusan fisika (A1) kala itu dengan pertimbangan, jurusan itu yang paling fleksibel, saya masih bisa nerusin ke universitas manapun yang saya mau kala lulus nanti (asal keterima aja! :p)

Setelah mati-matian belajar fisika dan matematika berjam-jam per minggu di sekolah dan tempat les, saya baru nyadar kalau saya sebenernya gak doyan-doyan banget pelajaran eksata. Mhuahaha. Kesian deh!
Saya ingat, saya sampe dibujuk-bujuk masuk kelas sama guru fisika saya yang baik hati waktu itu, karena saya ngambek pegangan tiang di depan kelas gak mau masuk.. Hihihi.. Kayak pelem india banget !!!
Saya juga bolak-balik bolos les masuk UMPTN, dan sekali-kalinya ikut, err apa itu istilahnya, yang kayak simulasi tes UMPTN gitu deh.. saya dan 3 sahabat saya malah membagi soal dan contek-contekan biar cepat kelar dan kita bisa cabut nongkrong di PIM! Saya kebagian ngerjain matematika dasar dan matematika fisika kala itu.. ehmm.. dan hasilnya… nilai matematika fisika saya eh kami (karena jawabannya sama semua): MINUS EMPAT sodara-sodara!
Ya Allahhh.. kelakuannn…
Ampuni aku mamahhh… hihihi

Oya, balik lagi ke soal cita-cita.
Sebelum memilih fakultas mana yang saya mo masukin, saya sempet ikut tes psikologi. Eh, waktu itu cita-cita saya nambah, pengen jadi Psikolog juga! Kwang kwangg…
Tapi ternyata hasil tes menyatakan kalau saya nggak cucok jadi psikolog karena pada dasarnya saya suka cuek sama orang laen. Itu kata si bapak psikolog lohhh yaaaa… Jadi saya nggak disaranin masuk fakultas psikologi. Later on, saya rada nyesel kenapa ngedengerin si bapak ini, karena ternyata sampai sekarang pun saya seneng mempelajari hal-hal yang berbau psikologi.
Aniweii.. si bapak bilang okelah, secara kemampuan intelektual, IQ saya ternyata gak jongkok-jongkok amat dan seharusnya saya mampu mengikuti pelajaran di fakultas kedokteran, tehnik atau ekonomi, tergantung pilihan saya nantinya. Asaaalll, saya mesti belajar bersungguh-sungguh.
Yeyyyy… ngeselin, itu mah nggak usah ke psikolog juga semua orang udah tahu kaleeee!

Singkat kata akhirnya saya milih kuliah di fakultas ekonomi karena:
1. saya males jadi dokter
2. saya gak keterima masuk tehnik (ya iyalah, nilai matematika MINUS begitu. Makanya jangan ngabur mulu kalau sekolah dan les Pan!)
3. sebenernya saya udah gak niat masuk tehnik yang ada gambar-gambarnya karena ngebayangin that I have to use two hands. Saya ngebayangin, kalau belajar ekonomi, kan paling cuma nyatet-nyatet, pake  tangan satu aja tangan yang satunya bisa buat.. er ngupilll… atau tinggal bobo-boboan sambil baca buku.. I know it’s such a silly reason, but i actually thought that way back then. Pemalas banget yah ternyata saya.

Ah ya sudahlah, singkat kata, saya kuliah di ekonomi, lulus, dan kerja di bidang shipping. Bla bla bla.

Did I like it? No
Do I regret it? No

But if I could turn back time…
Mungkin saya gak akan milih ekonomi lagi. Mungkin saya akan nurutin saran mama saya dulu, belajar jurnalistik. Mungkin saya akan berpikir lebih panjang, lebih lama dan bertanya pada diri saya sendiri, apa sih yang saya suka? saya minati? apa sih bakat saya?
Mungkin saya nggak akan membiarkan diri saya dipengaruhi tren, atau omongan orang, atau ambisi orang lain.

Balik lagi ke cita-cita,
Saya dulu juga sempat punya cita-cita pengin jadi mbak-mbak yang jaga di studio 21.
Soalnya kayaknya kerja mereka enak, seragam cantik, tempat kerja yang adem dan boleh nonton film gratis setiap saat.
Saya pernah juga kepingin jadi SPG counter cosmetics.
Alesannya, bisa dandan dengan produk-produk mahal, ngedandanin orang dan ngeracunin orang buat beli produk yang saya jual, tempat kerjanya di mall! my sanctuary🙂
Atau jadi hairdresser
Gak tau kenapa saya dari dulu kepengen bisa motong rambut orang. Selama ini ‘korban’ saya cuma si Jo dan Alyssa. Eh, jadi tukang dandanin orang juga asyik kayaknya..
Sempat terlintas juga jadi tour leader.
Enak, bisa jjs gratis ke seluruh dunia, tapi ada bagusnya juga cita-cita saya yang satu ini gak terkabul. Karena kalau saya beneran jadi tour leader, kesian banget wisatawan yang jadi client saya. Yang ada dibentak-bentak mulu kali sama saya.. hihi. Ntar sebelum masuk bus tour harus baris dulu, lencang kanan, jalan di tempat.. hahah (kebiasaan waktu jadi ketua kelas dulu!)

Trus, apakah saya sekarang masih punya cita-cita?
Hmm.. soal keinginan pribadi untuk kerjaan, iyalah.
Ada beberapa malah. Satu diantaranya saya pengin kerja dibidang kemanusiaan. something that i actually care dan syukur-syukur bisa memberi kebaikan buat lingkungan/dunia. Atau kerja di bidang kreatif, kayak nulis-nulis, di media, film dsb. Atau… just a simple job close to home. Kerjaan yang dekeeet banget ama rumah, yang gak ribet dan stresful, mungkin ala-ala SPG counter cosmetics atau mbak-mbak penjaga 21. hihihi

Berdasarkan pengalaman ‘masa muda’ saya, *cieeeh* saya jadi memaksakan diri saya untuk gak memaksakan suatu ide ke benak Alyssa. Saya gak mau dia mikir, bahwa profesi seorang dokter itu lebih keren dari seorang perawat makanya dia harus jadi dokter. Saya gak mau dia mikir kalau jadi perawat itu kurang bergengsi and make her less valuable. Saya mau dia benar-benar cari tahu apa yang dia mau, dan konsisten menjalaninya. Tanpa dipengaruhi embel-embel gengsi, uang, intimidasi dan lainnya.

Sebagai ortu, saya pastinya punya begitu banyak harapan untuk si neng. Tapi saya harus hati-hati, agar harapan saya tidak menjadi beban untuknya. Saya mau dia tahu, that i love her unconditionally. She doesnt have to prove anything to me.
Saya gak mau, neng menjalanin hidupnya hanya demi membuat saya bangga, membuat saya tidak malu, atau menyenangkan hati saya. Saya mau dia menjalani hidupnya seperti yang dia mau, saya mau dia bahagia karena itu otomatis akan buat saya bahagia juga. Saya mau, apapun pilihannya, apakah jadi insinyur atau polisi, ilmuwan atau jurnalis, pengacara atau hairdresser, penari balet atau astronot, saya akan mendukungnya 100 persen!

Ah, saya kok jadi ngelantur kemana-mana yah..hihi
I guess in the end,
Cita-cita saya adalah pengen liat neng, and my immediate family, happy…

🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 10, 2011 by in motherhood, thinking.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: