Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Keluarga Cemara dan Mario Bros

pic taken from here

Sudah lama mo cerita tentang tetangga saya, tapi selalu terlupa.
Mereka ini satu keluarga, Bapak-ibu dengan empat anak (tapi si sulung sudah menikah dan nggak tinggal bareng).
Si Bapak, usianya 50-an, berperawakan tinggi guede, berperut buncit dan berkumis tebal seperti Pak Raden. Sangar, tipe-tipe pengemudi Harley Davidson. Tapi kalau  kamu sudah kenal dan melihat dia tersenyum, kesan sangar itu hilang dan kamu justru teringat sama Mario Bros.
Dia super friendly dan baik hati. Jagoan dan tidak sombong.
Untung dia nggak ganteng kalau iya pasti saya sudah mengidolakannya seperti saya mengidolakan Mas Boy.

Alyssa pun sayang sama si Bapak ini dan keluarganya seperti mereka juga sayang sama Neng. Dan mereka selalu siap sedia nolongin kita. Baiiik banget. Mulai dari antar jemput ke airport, jagain rumah kalau kita pulang kampung, pokoknya banyak deh kejadian yang suka bikin kami terharu dan bersyukur punya tetangga kayak begitu.

Tapi, ada satu hal yang bikin saya kagum sekaligus iri sama mereka.
Bukan, bukan karena mereka abis beli kulkas baru mentereng, atau mobilnya lebih keren dari kita atau rumputnya lebih hijau dari halaman kita (which is, now that i mentioned it, emang rumput mereka literally lebih ijo, dan mereka juga punya banyak tumbuhan gitu di taman-nya nggak seperti taman kita yg gersang). *hush, ini kok jadi ngelantur*

Balik lagi ke topik.

Justru sebaliknya, mereka nggak lebih tajir atau ‘gemerlap’, malahan mereka justru sangat.. errr.. apa yah.. sederhana. gitu deh.
Si Papa Mario, kerjanya ‘cuma’ jadi buruh pabrik. Sementara itu, si Mama ‘Mario’ nggak kerja. Dan mereka punya anak empat yang pastinya membutuhkan banyak biaya.
Okelah, di Belgie, kesejahteraan lumayan terjamin sehingga mereka nggak hidup kekurangan. Tapi ya itu, dibanding kebanyakan tetangga dan lifestyle di sini, hidup mereka ya bisa dibilang sangat sederhana sekali.
Rumah standar, mobil standar, nggak pernah liburan.
Hebatnya, mereka nggak pernah terlihat iri, atau minder, atau merasa kekurangan.
Justru, saya nggak pernah ngeliat keluarga sebahagia ini, selain mungkin Keluarga Cemara.
Mereka selalu terlihat… so content..

Melihat mereka, suka bikin saya tertohok.
Saya yang kepengin punya rumah lebih besar dan mewah.
Saya yang kepengin punya mobil lebih canggih.
Saya yang kepengin liburan ke manca negara.
Saya yang selalu merasa nggak punya duit karena terlalu banyak baju dan sepatu dan tas bagus yang harus di beli.
Saya yang berambisi bisa berinvestasi di properti, emas, dinar, reksadana, dll.
Saya yang harus punya karier bergengsi.
Saya yang ngotot harus begini dan harus begitu dengan standard gila yang saya ciptakan sendiri.
Saya yang selalu merasa kekurangan.

Kapan yah, saya bisa bilang cukup?
That I’m happy with what i have?
And not keep wanting for more?

2 comments on “Keluarga Cemara dan Mario Bros

  1. Lala
    June 22, 2011

    Suami gw pernah cerita ada Holyman yg pernah ditanya "What do you want?" dan si Holyman menjawab "I want not to want…" Nama Holyman ini Bayazid al-Bistami.Kapan ya gw bisa sampai kaya gitu, kayanya ini keinginan ga ada ujungnya. Mengalir muluuu.

  2. Fanny
    June 22, 2011

    Lala: ceritanya keren! :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 20, 2011 by in thinking.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: