Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Harry Potter and I

Perkenalan saya dengan Bang Harry dimulai beberapa tahun yang lalu saat eks- kolega saya waktu itu memaksa saya menemaninya nonton film pertama Harpot. Waktu itu buku-buku Harpot sudah mulai banyak diperbincangkan tapi belum seheboh sekarang. Saya, yang lumayan kutubuku, anehnya nggak tertarik membaca Harpot. Tapi karena kepaksa ngikutin ajakan teman itu lah, saya setuju nonton, kalau nggak salah waktu itu di Empire 21 deh.. midnight…

Tidak perlu diteruskan detil acara nonton waktu itu, yang jelas saya langsung kesengsem sama Bang Harry. Atau mungkin lebih tepatnya, saya jatuh cinta, nggak cuma dengan si tokoh utama tapi juga sama temen-temennya. Saya langsung mencari bukunya, dan mulai membaca buku ketiganya, yang kemudian menjadi buku favorit saya di lanjutkan dengan buku kesatu dan kedua.. dan selanjutnya saya menanti-nanti  dan selalu berada dalam waiting list buku keempat, kelima, keenam dan ketujuhnya.

Saya juga menulari Jo kecintaan saya pada mas Harpot. Bahkan di buku keenamya, kami sempat berantem, menentukan siapa yang boleh baca duluan! Saya menang dan berhak baca duluan, Tapi si jo sampai ngotot pengen beli satu copy lagi ! Ya ampun, boros banget gak sih beli dua buku yang sama? Akhirnya saya ngalah, dan membiarkan dia baca duluan dengan catatan dia janji nggak akan membocorkan cerita dan spoil the fun! Tapi buntutnya, saat saya mulai baca, saya dikit2 tanya (Dumbledorenya mati nggak? Beneran mati yah? Trus gimana?.. hehe nggak kuat kalau nggak minta bocoran!!!)

Anyway, saat buku ketujuh keluar saya dan JO sama-sama emosional (halah!) Antara senang karena masa penantian berakhir, tapi juga sedih karena ini artinya, kita akan berpisah dengan tokoh kesayangan kita… SNAPE (Dan Ron, Hermione, si kembar Weasley)!!! But it’s ok, at least we still got the movie to wait for.

Jreng Jreng…

Here comes the movie.
FYI, I can be very fussy when it comes to watch movie in the cinema. Saya nggak suka kalau bisokopnya terlalu penuh. Saya nggak suka kalau nonton dempet-dempatan sama orang (paling tidak harus ada satu bangku kosong di samping saya). Pokoknya, kalau nonton di bioskop, saya benar-benar mau menikmati. It has to be perfect. Apalagi kalau filmnya, film yang emang sudah saya tunggu-tunggu. Satu gangguan kecil (misal orang sebelah saya batuk-batuk), maka mood saya hancur berantakan dan gak bisa menghayati jalannya film). Yeah, I can be that difficult!

Karena itu untuk menghindari atau meminimalisasikan gangguan kala nonton Harpot;, saya menyiapkan beberapa strategi, sbb.

Plan A Tunggu sampai demam-nya mereda, bioskop lebih sepi, bahkan kalau perlu tunggu sampai yang part II diputar juga, jadi bisa nonton sekaligus.
Plan B Beli tiket via internet, sampai dapat tempat duduk yang oke, kalau perlu di Love Seats (bangku khusus untuk pasangan, lebarnya 3 kali bangku biasa, bisa setengah baringan, peluk-pelukan dan pastinya nggak bakal nempel orang (asing) di sebelah)

Tapi dasar sial, both Plan A dan Plan B gagal total.
Plan A gagal karena saya nggak sabar nunggu lama-lama.
Plan B gagal karena ternyata khusus untuk Harpot, Reserve Seats tidak berlaku! Jadi saya kadung beli tiket untuk hari minggu jam 14.45, tanpa ada seatsnya. Basically siapa cepat datang di bioskop, dia tinggal duduk di bangku yang (masih) tersedia.

CRAP!!!

Dengan deg-degan empat lima, hari minggu, saya dan Jo berangkat pagi-pagi ke bioskop. Halah hiperbola sangat. Nggak deng, nggak pagi-pagi amat. Kami sampai di bioskop sekitar 30 menit sebelum jadwal film, dan ternyata pintu studio sudah dibuka dan begitu masuk.. eh busyettt.. udah penuh banget!!!! Saya langsung lemes.. dan cepet-cepet cari seats yang masih available. Di mana aja boleh deh. Di lantai juga gak papa.. pasrah…
Eh, tapi ternyata, di bangku deretan belakang masih ada beberapa seats kosong.. saya langsung lari dan meletakan coat saya sebagai tanda ‘maap, tempat ini sudah terisi’ hehehe.. puas..
Tapi loh, kemana suami saya???
Ow ow.. ternyata Jo masih terus berlari.. menerjang beberapa pengunjung…. Dengan raut muka yang nggak pantang menyerah.. dan…  Hupla!
He managed to get the Love Seats.
Yes, ladies and Gentlemen, Jo, my darling husband mendapatkan kursi idaman saya!! Wooohooo!!!

Raut mukanya bangga banget waktu ‘mempersembahkan’ kursi singgasana tersebut pada istrinya. Saya langsung senyum-senyum sumringah terus kita berpelukan.
Norak deh, tapi bodo amat ah. Setelah itu saya keluar lagi buat beli Nachos, M&M dan aqua (kan lagi diet minumnya aer putih.. NOT!!!) plus… ehm pipis.. (God forbid, saya kebelet kencing pas asyik nonton). Setelah semua siap, saya balik ke bangku ke pelukan suami saya, terus kita foto2 dulu sebelum film di mulai. Sumpah, we acted like stupid 4L4Y.. well, actually I acted like a stupid alay, jo was just getting along. Kayaknya dia udah apal sama tabiat saya dan emang udah berniat ‘memberikan yang terbaik’ sore itu (daripada ngedengerin saya ngomel berhari-hari karena gak bisa nonton Harpot dengan baik dan benar).

Sepanjang film saya masih ngerasa it’s too good to be true. Maksudnya nonton film di bioskop penuh, and we still got one of the best seats in da house? Saking ngerinya, saya udah siap, kalau diusir petugas disuruh cari duduk di tempat lain karena siapa tahu love seats udah di reserved buat VIP! Haha

Tapi ternyata, sepanjang film semua berjalan lancar.. saya pun suka sama filmnya.
Salah satu yang terbaik dari HarPot the movie(s) menurut saya adalah bagian castingnya.
Soalnya tokoh-tokohnya pas banget memerankan tokoh mereka. Kayak Harry, Hermione, Ron and the family Weasley that I love (si kembar, emaknya dll).. Snape.. Dumbledore, Luna, Draco, Hagrid.
Kalau satu yang agak mengecewakan buat saya adalah Godfather-nya Harry (di film terdahulu). Saya suka sekali tokoh itu dan membayangkan dia rada gantengan gitu.. tp kenapa di film JELEK BANGET? Sebelll..

Anyway, still angkat topi buat JK Rowling.
Bukan cuma imajinasinya yang luar biasa saya suka sekali dengan penokohannya. Karakter-karakter di buku-buku harpot canggih banget!
Dengan kelebihan dan kelemahan mereka yang terasa sangat human. Bahkan Dumbledore pun dibikin imperfect.
Saya juga suka waktu Ron berantem dengan Harry yang menurut saya wajar banget….

Uggh, gak sabar deh nunggu film part II-nya.
Kayaknya saya bakal nangis deh karena Snape.. oh Snape… hiks…
Posing with nachos before the movie started
Sent from my BlackBerry® wireless device

3 comments on “Harry Potter and I

  1. Astrid
    November 23, 2010

    ahaha seru fan! gw malah belom nonton nih…masih nunggu sepi =) dan setuju banget kalo Harpot adalah salah satu masterpiece di dunia fiksi, susah cari tandingannya nih skrg!

  2. Rina Suryakusuma
    November 23, 2010

    aku juga sdh nonton Fan :)Baguuuussssss bnget heheeeDan, mungkin selera kita unusual ya, tapi aku juga suk Snape :)apalagi yang meranin, wah, kece bener

  3. Fanny
    November 23, 2010

    Astrid:Benerrr banget. Gosipnya bakal ada terusannya yah.. *crossingmyfingers*Rina:Auuuw Snape.. the romantic oneGak nyangka yah.. hiks hiks..gue selalu terharu kalau inget Snape!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 22, 2010 by in Review.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: