Four Seasons In Belgium

by fanny hartanti

Pendidikan memang mahal, bung!

Pengakuan dosa. Pagi ini saya ssssebel banget sama kolega saya dan saya jadi rada-rada jutek gitu deh sama dia.

Alasan pertama, it was early in the morning and I am NOT a morning person.
Alesan kedua, hari ini adalah hari pertama saya masuk kerja setelah 6 hari di rumah. So I was already grumpy.
Alesan ketiga, saya kesel aja denger dia ngeluh soal mahalnya biaya yang harus dia keluarkan untuk membeli buku anaknya yang duduk di bangku SMP. Menurut dia harga 300 euro lebih untuk buku-buku sekolah itu ‘mahal’.

Hmm, oke, saya tahu setiap orang berhak untuk punya opini.
Lagipula, mahal itu relatif buat masing-masing orang.

Tapi…..
Tapi saya nggak bisa nggak membandingkan kondisi di sini dengan di Indonesia.
Sebaliknya dengan si bapak yang mengganggap kalau pendidikan (di belgia) mahal, saya justru menganggap itu murah sekali.

Bayangkan, Alyssa masuk SD bisa di bilang semua gratis tis tis.
Nggak ada uang pendaftaran, uang gedung, uang spp.
Bahkan, ibaratnya cuma modal dengkul aja, Alyssa bisa sekolah.
Saya yang udah sibuk pengen bela-beli peralatan sekolah (emang niat shopping sih.. hehehe) harus gigit jari karena ternyata apa yang saya beli itu nggak kepake, karena pihak sekolah sudah menyediakan semuanya gratis. Bahkan pensil warna pun dikasih gratis!
Sebagai ortu, kita hanya di suruh beli kaos olah raga seragam, nggak wajib, dan harganya cuma 4 eur.
Kalaupun ada kegiatan ekstra (renang, piknik, dsb) Sekolah memastikan jumlah totalnya tidak akan melampaui 60 eur dalam satu tahun pelajaran.

Coba bandingkan dengan keadaan di Indonesia. Saya pernah dengar uang gedung untuk masuk sebuah TK internasional di Jakarta mencapai tujuh puluh lima juta rupiah. Itu baru uang gedungnya doang! Waks! Gimana dengan SD, SMP, SMA, Kuliah. Saya hampir pengsan dengernya.

Karena itu saya mengelus dada mendengar komentar si bapak.
Ingatan saya melayang pada berjuta orang tua di indonesia yang bekerja keras, banting tulang buat memastikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya.
Saya ingat seorang supir taksi yang pernah bercerita pada saya bagaimana dia mampu membiayai kuliah anaknya, padahal logikanya, gaji dia seharusnya nggak cukup untuk itu. Tapi ia tetep keukeh berjuang.  Ibaratnya, yang nggak ada pun diada-adain.

Atau seorang ibu rumah tangga ‘biasa’; yang tidak punya latar belakang pendidikan ekonomi sekalipun, bisa tinba-tiba menjelma menjadi seorang ahli di bidang keuangan dan fasih menjelaskan tentang investasi, beda tabungan pendidikan dan asuransi pendidikan, ataupun plus/minusnya unitlink dan reksadana.
Semua itu demi memfasilitasi masa depan putra putrinya. Memastikan, akan ada cukup dana untuk sekolah anaknya kelak.

They do whatever it takes to make sure they can give the very best to their children.
*hormatgrak saya buat mereka*

Maka (saya pikir) wajar kalau saya kesal.
Menurut saya nggak pantes, kalau orang di belgia berkata pendidikan di sini mahal. Apalagi di negara seperti belgia ini, dengan pendapatan perkapita yang lebih tinggi dari Indonesia dan ortu relatif mampu (secara finansial, at least) untuk memberikan pendidikan bagi anaknya.. Saya heran, ketika si bapak dengan santai memberikan hadiah iphone untuk anaknya (bernilai lebih dari 600 euro), tapi ngomel saat harus beli jangka harga 10 eur. (bener, saya nggak boong… bayangin betapa esmosinya saya asat itu)

Ah, dunia emang aneh kadang-kadang.
Semua ini bikin saya jadi berpikir, dan bersyukur dengan kenyataan kalau saya bisa merasakan dua dunia yang berbeda.

Walaupun kadang sulit untuk menerima budaya A dan budaya B, pemikiran A dan pemikiran B, tapi perbedaan ini, somehow enriched my life.

It is easier to see the positive if you have something negative to compare to.
Halah apa sih.. ribet yah..
Yah, pokoknya gitu deh.
Maaf kalau saya jadi ngomel dan ribet begini. Tapi maksudnya, saya jadi nggak gampang ngomel tentang mahalnya pendidikan di sini karena saya tahu, di Indo ‘harga’ pendidikan jauuuuh lebih mahal. Saya bersyukur, mampu memberikan pendidikan untuk anak saya, tanpa harus terbebani biaya yang diluar jangkauan seperti yang harus dialami banyak orang tua lainnya. Dan saya juga berharap, semoga suatu hari nanti, setiap anak di muka bumi ini, bisa mendapatkan pendidikan berkualitas dengan murah.

Satu hal yang saya yakini, pendidikan mungkin memang ‘mahal harganya’, tapi…
seharusnya nggak ada kata mahal untuk menuntut ilmu… karena in the end, it is all worth it!

4 comments on “Pendidikan memang mahal, bung!

  1. Lisa
    September 2, 2010

    setujuuu.emang bener ya biaya pendidikan di indonesia muahal…

  2. fanny
    September 3, 2010

    sebenernya, kalau dipikir bukan cuma pendidikan aja yah say. biaya hidup secara keseluruhan di sana mahal… tapi orang indo perjuangannya top, unlike people here yang suka rada2 manja.. hehehe

  3. otty
    September 7, 2010

    Orang Indo terlatih "meng-ada-kan" yang ga ada, makanya tetep survive :p Mungkin karena di sana udah lebih enak dan teratur kali ya, jadi semangat "usaha"nya juga berkurang *sotoy*

  4. fanny
    September 7, 2010

    Otty.. benerrrr bangettt.survival-nya org indo top markotob dan… kreatif (kere tapi aktif) hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 2, 2010 by in bla bla bla, thinking.

Archives

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

%d bloggers like this: