2 minggu kerja…

Standard

Hmmm… nggak kerasa udah dua minggu ini gue kerja lagi. Balik jadi wanita karir lagi.. balik ngerasain migren dan stres lagi .. hehehe

Ada satu kepuasan sendiri untuk bisa ngantor lagi. Bisa mandiri lagi. Bisa jadi ‘Fanny’ lagi.
I dont mean to lessen those women who choose to be a stay at home mom –i have my respect (and a bit of envy) for them–.. It’s just that, it’s not really who I am.

Walaupun jujur, kayak semua working mom lain, pasti ada sedikit (atau banyak) rasa bersalah saat harus ninggalin neng Al seharian… Ada sedikit kekhawatiran, ‘gimana kalau neng al jadi nggak keurus?’, atau ‘gimana kalau hubungan kita jadi gak deket?’..

Tapi lucunya, so far, semua pertanyaan ini terjawab dengan positif. Neng Al terurus dengan baik (malah mungkin lebih baik! hehehe) dan hubungan gue dan si eneng justru tambah deket…

Mungkin karena ada unsur kangen dan ‘seize the time’ alias aji mumpung. Saat-saat dengan neng al jadi terasa lebih berharga, dan gue yang biasanya suka ngomel-ngomel jadi lebih sabar (sedikit), karena selalu berpikir ‘ah waktu gue kan udah dikit sama si neng, masa gue harus ngomel2in dia sih..pan kesian!!’

Di sisi lain, walaupun gue bangga bisa dapet kerjaan di sini yang ngedapetinnya susyenya setengah mati (karena biasanya non-eropean atau non-belgie suka dipandang sebelah mata (kadang-kadang malah merem!)), gue suka kangen dengan suasana kerja di indo yang rame dan ceriah!

Di sini, walaupun orang kantor gue ramah-ramah, tapi tetep aja nggak segila temen-temen kantor waktu di indo. Udah gitu, waktu makan siang, nggak ada acara kelayapan sampe dua jam, mampir ke PS buat liat metro sale, bingung mau makan apa dan di mana, atau cekikian di kantor atau kabur ke WC buat nemuin enci-enci yang jualan baju/parfum kreditan! hahahaha

Di sini mah, nggak ada semua itu…

Makan siang palingan makan bekel roti dari rumah atau sandwich/salad order di kantor. Di makan bareng sama beberapa temen kantor di dapur/kantin sambil ngerumpi sopan (maksudnya nggak gila cekikikan atau becanda jorok dan teriak-teriakan kayak orang indo).

Saat kerja juga gitu, santai tapi serius. Sepi nggak berisik kayak kalau di Jakarta dulu.

Tapi teteplah, gue bersyukur. Paling gak kantor gue nggak pelit-pelit amat. Kita disediain ruang makan /dapur/perpustakaan yang luas, komplit dengan microwafe/oven/kulkas penuh soda yang gratis, plus gratis sup instant, teh,kopi, coklat panas, buah-buahan…

Trus, tgl 19 april kemaren, di mana di sini dirayain sebagai hari sekertaris, semua perempuan dapet buket bunga… Lumayan… hehehe

Moral of the story: Hidup yang sempurna adalah tinggal di Belgia dengan segala fasilitas, kerja, dan di gaji euro (!)… plus semua anggota keluarga dan temen-temen juga ngikut dan tinggal deketan… Termasuk juga si Enci-enci tukang baju/parfum kreditan… Dan Mbak Pur, yang suka jual nasi rames ke kantor, dan rela diutangin (tetep!!!)

back to work!

Standard

Beberapa waktu yang lalu, gw dilanda dilema.
Setelah Alyssa mulai sekolah (February kemarin), keinginan gue untuk kerja lagi semakin menggebu-gebu. Memang sebelumnya gue udah mulai cari-cari kerja, tapi masih belum ngotot-ngotot banget (kata Jo, bawah sadar gue masih nggak niat cari kerja) . Baru akhir-akhir ini aja gue mulai panik karena belum dapet-dapet kerja, apalagi seringnya denger cerita temen-temen sesama non-belgian yang sering curhat betapa susahnya cari kerja di sini bagi orang asing. Hampir semua lowongan kerja di koran-koran mencantumkan syarat : fasih bahasa belanda, prancis, inggris. Kadang-kadang masih ditambah German, or other European Language. Belum lagi lokasi kantor yang lumayan jauh, yang bikin gue jadi males buat ngelamar.
Gue hampir putus asa. Bingung antara mau melanjutkan mimpi gue untuk terus berkarir ‘beneran’, atau jadi ibu rumah tangga yang nyambi kerja ‘asal’ yang deket rumah tapi masih punya banyak waktu dengan Alyssa.
Kebingungan gue makin numpuk ketika gue dapet dua tawaran kerja dalam satu minggu. Satu kerja part time tapi berarti meninggalkan mimpi gue. yang satunya lagi kerja yang sesuai dengan mimpi gue tapi berarti melepaskan sekian banyak waktu bermain dengan Alyssa.
Which one should I go for?
When I’m in doubt, I turn to my hubby! :))
Setelah ngobrol2, Jo menyadarkan gue akan satu hal, bahwa gue nggak akan puas dengan ‘kerjaan asal’. Gue juga sadar, bahwa kalaupun gue meninggalkan mimpi gue sekarang, bukan nggak mungkin gue akan menyesalinya bertahun-tahun kemudian, when it might be too late already. Or, like my bestfriend Sheila said (kutipan dari film robots), “A dream you dont fight for could haunt you for the rest of your life”.

Keputusan gue tambah manteb ngeliat Alyssa kecil sekarang sudah mulai mandiri dan asyik dengan sekolahnya. Jo said she’ll be fine. I have done a good job for the last couple of year concentrating on her. I guess now it’s time for me to give more time for my self.

So, gue mutusin untuk menerima kerjaan ini dan mulai minggu depan. Gue mutusin untuk mencoba menjalani peran baru sebagai working mom. Gue mutusin untuk mengikuti kata hati gue.

And I’m not afraid to tell you, that I’m doing it for myself!

Semoga, keputusan gue benar. Dan semoga gue bisa menjalani peran baru gue dengan baik.
Amen.

Minggu depan gue mulai.. Sekarang gue mau puas-puasin dulu main sama neng AL, mumpung kita berdua lagi libur… :)